Iyosrosmana’s Blog

30 September 2009

Metode Pembelajaran Membaca

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 1:06 pm

Metode pembelajaran membaca tidak terlepas dari pendekatan pembelajaran bahasa. Salah satu pendekatan pembelajaran bahasa yang diterapkan pada saat ini adalah pendekatan Whole Language. Pendekatan ini menyikapi bahasa sebagai gejala plural yang mempunyai keutuhan. Sebab itu dalam pembelajaran bahasa harus diajarkan secara utuh, padu, dan berkesinambungan. Pembelajaran ihwal bunyi, ejaan, pembentukan dan makna kata maupun kalimat misalnya, antara yang satu dengan yang lain harus memiliki pertalian secara jelas sehingga hasil belajarnya membuahkan pengalaman belajar dan pemahaman secara utuh dan padu. Keutuhan dan keterpaduan pengalaman belajar dan pemahaman itu diharapkan dapat dimanfaatkan dalam penggunaan bahasa secara reseptif maupun produktif, terutama dalam pembelajaran membaca. Dalam konteks yang lebih luas juga dikenal adanya pendekatan menyangkut perencanaan dan pembelajaran secara terpadu. Pendekatan demikian dilandasi konsepsi bahwa pemahaman dan keterampilan yang perlu dimiliki anak antara satu dengan yang lain seharusnya memiliki hubungan. Sebab itu berbagai materi yang mereka terima di sekolah sebenarnya memiliki hubungan saling ketergantungan. Alasan demikian juga diperkuat kenyataan bahwa dalam mengisi kehidupannya, anak dituntut untuk mengembangkan kemampuan secara interdisipliner. Dua terminologi yang lazim dihubungkan dengan perencanaan dan pembelajaran terpadu adalah proses dan produk yang dicapai anak. Dalam pembelajaran membaca, siswa dituntut untuk memadukan proses dan produk membaca. Pembelajaran terpadu berisi konsepsi bahwa berbagai disiplin atau pelajaran antara satu dengan yang lain idealnya memiliki kesinambungan. Sebab itu isi pembelajarannya tidak harus dibatasi secara ketat karena ditinjau dari proses belajar dan berpikirnya, pemahaman isi pembelajaran pada disiplin yang satu dengan disiplin yang lain seharusnya mampu membentuk keutuhan. Bagi de Vries dan Crawford, Unlike many approaches to curriculum planning, the integrated curriculum is interdisciplinary and demonstrates the interdependent nature of the subject disciplines (de Vries & Crawford, 1989). Dengan kata lain, pengembangan pembelajaran membaca dengan pendekatan terpadu bersifat interdisipliner dalam menghubungkan isi pembelajaran dengan potensi siswa serta proses pembelajaran. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan pembelajaran membaca di SD. Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan “Whole Language”. Huruf yang dikenalkan kepada siswa adalah huruf i, n, u, b, a. Kegiatan pembelajaran diawali dengan menatap tulisan “ibu” yang disajikan oleh guru, setelah itu guru membahas tulisan itu sebagai area isi pembelajaran dengan dipadukan pada huruf-huruf lain (i, n, u, b, a). Model pembelajaran itu selengkapnya disajikan berikut ini. 1. Ibu Menatap Guru bercerita tentang ibu sambil menempel gambar ibu di papan tulis. Beberapa orang siswa disuruh bercerita tentang ibunya. Guru kemudian berkata, “Gambar ibu dapat dibaca seperti tulisan ini,” lalu guru menuliskan kalimat: ini ibu di papan tulis atau menempelkan kalimat ini ibu di dekat gambar ibu. Siswa disuruh menatap tulisan guru di papan tulis. Guru kemudian membaca tulisan tersebut dengan suara nyaring. Dengan aba-aba dari guru, siswa disuruh menirukan bunyi tulisan yang dibacakan guru tadi. Beberapa orang siswa disuruh membaca tulisan tersebut. “Anak-anak, coba perhatikan sekali lagi tulisan di papan tulis.” Beberapa saat kemudian, guru berkata, “Tutuplah matamu dan bayangkan tulisan yang terdapat dan papan tulis.” Guru kemudian menutup/menanggalkan kartu kata ibu dan yang tinggal kartu kata ini. Guru kemudian berkata, “Bukalah matamu! Apa yang kamu lihat?” Tentu saja berbagai jawaban siswa, kemudian guru melanjutkan, “Mari kita baca: ini” Langkah 1 ini unsur kalimat (kata) Langkah 2 i ni unsur kata (SAS) Langkah 3 i n i unsur SAS (huruf) Langkah 4 i ni unsur kata (SAS) Langkah 5 ini unsur kalimat (kata) Para siswa membaca, dan kemudian siswa disuruh menutup matanya. Kemudian guru menyuruh lagi. “Coba tuliskan dengan jarimu di udara ini.” Selama para siswa menutup mata dan menulis di udara. guru menutup tulisan tersebut. Sementara tulisan di papan tulis masih ditutup, guru menyuruh siswa-siswa membuka matanya dan kemudian disuruh menulis kata yang diingatnya itu pada buku tulis siswa masing-masing. Guru sebaiknya berkeliling untuk membantu, apabila terdapat kesalahan yang dilakukan oleh siswa, maka siswa yang bersangkutan disuruh memperbaikinya kembali. Setelah mereka menguasai membaca dan menulis ini kemudian guru mulai menganalisis (SAS) kata ibu dengan rincian seperti: Langkah 1 ibu unsur kalimat (kata) Langkah 2 i bu unsur kata (SAS) Langkah 3 i b u unsur SAS (huruf) Langkah 4 i bu unsur kata (SAS) Langkah 5 ibu unsur kalimat (kata) Pada langkah kedua (tidak dibaca dengan suara lambat) guru menjelaskan bahwa kata ini terdiri dari i dan ni sedangkan pada langkah ketiga guru menjelaskan bahwa kata ini yang diuraikan menjadi i n i itu terdiri dari huruf-huruf i, n, dan i. Kegiatan yang sama untuk kata ibu. Guru dapat saja memulai dengan kalimat ini ibu. Langkah kegiatannya sama saja dengan kegiatan S,A,S, dimulai dari kalimat, ke unsur kalimat (kata), ke unsur kata (SAS), ke unsur SAS (huruf), demikian seterusnya dan kembali lagi ke kalimat. Kemudian guru berkata, “Mari kita bermain dengan kartu huruf!” Guru menyiapkan kartu huruf masing-masing beberapa lembar. Beri siswa-siswi semacam teka-teki untuk menemukan unsur kata (SAS), unsur SAS (huruf) yang hilang.  Dilanjutkan dengan bermain kartu kata untuk mengenalkan huruf u dan b. Diulang berkali-kali dan diharapkan sebagian besar siswa memahaminya. Metode yang digunakan tergantung kepada guru sendiri, dilakukan secara bervariasi. Metode yang dapat digunakan antara lain SAS, bunyi, global, pemberian tugas, diskusi, dan tentu saja selalu memperhatikan keterampilan proses apa yang hendak dikembangkan. Apabila guru menganggap ada metode yang paling cocok untuk kondisi kelas tersebut, maka guru sebaiknya menggunakan metode tersebut, sebab tujuan utama membaca menulis permulaan (MMP) di kelas 1 dan 2 adalah agar para siswa pandai membaca dan menulis dengan benar. Karena itu pula, guru perlu melakukan pendekatan yang bersifat Individual pada setiap siswanya. Setelah siswa mengenal dan memahami fungsi huruf i, n, b, u di atas, lanjutkan lagi dengan mengenalkan huruf a untuk membentuk kata yang lain, misalnya kata abu dalam kalimat ibu, ini abu. Selanjutnya kata abu diajarkan (di-SAS-kan) seperti pada kata ini dan ibu. Lanjutkan dengan permainan teka-teki huruf yang hilang. Misalnya: Menyusun Huruf Menjadi Kata Mengombinasikan huruf-huruf yang sudah dikenal, misalnya dari kita ibu menjadi kata ubi. Kemudian susunlah kalimat baru dengan kata baru tersebut. Guru membimbing para siswa membaca dan menulis kalimat ini ani dengan langkah kegiatan dengan urutan unsur kalimat, unsur kata, unsur SAS, unsur huruf, unsur SAS, unsur kata, dan unsur kalimat, kata yang di-SAS-kan adalah ani. Selanjutnya, siswa mengamati pembentukan kalimat ini ibu ani yang terdiri dari kata-kata ini, ibu, dan ani. Para siswa disuruh menempel kartu kata/ menuliskan kata yang hilang, yaitu ini kemudian ini ibu. Sebagai selingan, ajaklah para siswa untuk menyanyikan lagu

“Kasih Ibu”

Kasih Ibu Kasih ibu kepada beta

 Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

 

Kegiatan selanjutnya adalah permainan dengan SAS yang hilang. Siswa mengamati pembentukan kata dari unsur kata (SAS) yang hilang.  Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan, berpasangan atau berkelompok, divariasikan dengan kegiatan membaca, menulis dan atau sebaliknya, atau bermain kartu huruf/ kartu SAS untuk membentuk kata-kata baru yang ada artinya oleh siswa sendiri. Ulangi berkali-kali dengan bermain SAS seperti bagian di atas ini. Guru membuat sendiri bahan lain yang tetap menggunakan huruf-huruf tersebut, baik menyusun kata baru atau menyusun kalimat baru dari kata-kata yang baru pula. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan latihan yang bervariasi baik dilakukan di papan tulis maupun di buku siswa. Apabila guru yakin atau sekedar menguji kemampuan siswa-siswa, coba mulai melatihnya dengan dikte. Pada latihan dikte ini, menatap (melihat, menutup mata), menatap dan mengucapkan kemudian baru disuruh menuliskan kata atau kalimat yang didiktekan guru.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: