Iyosrosmana’s Blog

16 Mei 2009

Pengukuran Kecerdasan

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 11:52 am

Pengukuran kecerdasan telah dilakukan sejak 1905, Alfred Binet dan asistennya, Theodore Simon, mempublikasikan Binet-Simon Scale, suatu tes kecerdasan yang kemudian mengalami beberapa kali revisi. Terakhir dikenal sebagai Stanford-Binet Intelligence Scale

Pada tahun 1939, Wechsler meluncurkan Wechsler-Belleveu Intelligence Scale, setelah beberapa kali revisi menghasilkan sedikitnya tiga jenis alat ukur untuk kelompok usia yang berbeda, yakni WPPSI, WISC-R, dan WAIS-R. Yang berfungsi secara etik di kalangan penggunanya, yakni psikolog.

Baik tes Binet maupun Wechsler, merupakan tes kecerdasan individual yang pelaksanaannya dilakukan secara one-on-one relationship, satu ahli (expertise tester) melakukan pengukuran terhadap satu subjek/seseorang yang dites. Dengan demikian proses administrasi berlangsung secara pribadi, hingga motivasi, kecemasan, ataupun reaksi dari orang yang dites langsung teramati. Keduanya mengembangkan faktor G secara sistematis dalam subtes peranti mereka. Tes-tes ini masing-masing menghasilkan nilai kecerdasan atau IQ. Satuan yang dipergunakan untuk hasil tersebut adalah quotient, maka itu dinamakan IQ (Intelligence Quotient).

IQ merupakan hasil bagi dari MA (mental age/usia mental) dan CA (chronological age/usia sesungguhnya) dikalikan 100, maka sesuatu dapat disebut sebagai kecerdasan dengan satuan quotient apabila hal itu dapat diukur, dihitung, dan merupakan hasil bagi.

Seluruh tahap adalah penting dalam tes inteligensi, yakni proses tes, penyekoran, pengamatan, interpretasi, analisis, penghitungan, dan penyampaian hasil. Oleh sebab itu disarankan apabila hendak memanfaatkan jasa ini, pilihlah seseorang yang memang ahli dan berlisensi (sebagai tanda diakui kompetensi dan kewenangannya), sehingga masyarakat pemanfaat jasa pemeriksaan psikologis dengan tes inteligensi memperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain individual, ada pula tes kecerdasan yang bersifat massal. Pada umumnya dipergunakan dalam proses seleksi yang menggunakan norma kelompok (bukan skala universal seperti Binet dan Wechsler) sebagai rujukan. Hal itu dilakukan untuk melihat posisi nilai kecerdasan seseorang di dalam sebuah kelompok dengan kriteria tertentu, misalnya kelompok pencari kerja lulusan perguruan tinggi, dan lain-lain.

Goleman mengatakan IQ menyumbang 20 persen bagi kesuksesan hidup seseorang, selebihnya merupakan kontribusi dari kecerdasan emosi. Goleman memperkenalkan EQ (Emotional Quotient), dengan lima pilar andalan, yakni mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain (meliputi empati), dan membina hubungan interpersonal. Barangkali ia dan para pengikutnya telah mengembangkan skala pengukuran yang jelas untuk dapat disebut sebagai kecerdasan dalam satuan quotient.

Dengan demikian, tingkat kecerdasan ditentukan berdasarkan hasil tes kemampuan IQ. Berdasarkan hasil tes tersebut dapat diketahui apakah seseorang termasuk kategori: a) Tinggi sekali (140-169), b) Tinggi (120-139), c) Cukup Tinggi (110-119), d) Sedang (90-109), e) Agak Rendah (80-89), f) Rendah (10-79), dan g) Rendah Sekali (30-69).

Dari WWW:   Wikipedia, the free encyclopedia, htm.

1 Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: