Iyosrosmana’s Blog

20 Mei 2009

UNDAK USUK BAHASA SUNDA

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 8:32 am

Menurut Lukmana (2004:27), istilah undak usuk bahasa berpadanan dengan istilah speech levels. Undak usuk bahasa Sunda adalah suatu sistem penggunaan variasi bahasa Sunda halus, sedang, dan kasar. Berdasar pada sejarahnya, munculnya undak usuk bahasa Sunda disebabkan oleh pengaruh budaya Jawa pada kehidupan budaya Sunda. Kontak bahasa Sunda dan bahasa Jawa secara intensif terjadi ketika Sultan Agung menguasai tanah Pasundan. Salah satu unsur bahasa Jawa yang berupa unggah-ungguhing boso diadopsi ke dalam sistem bahasa Sunda. Jadi, undak usuk dalam ba-hasa Sunda muncul setelah daerah Pasundan dikuasai Mataram (Rosidi, 2004:30). Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa asalnya bahasa Sunda tidak memiliki undak usuk. Hal ini tampak pada pemakaian bahasa Sunda yang digunakan di daerah Banten Selatan (Pandeglang sampai daerah Baduy) dan Kuningan sebelah timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah (Cibingbin). Bukti lainnya bahwa bahasa Sunda asalnya tidak memiliki undak usuk terdapat dalam manuskrip (naskah) lama, seperti Carita Parahiyangan, Siksa Kanda Ng Karesian, dan Amanat Galunggung yang ditulis pada abad 16; dan prasasti-prasasti, seperti Batutulis, Kawali, dan Kabantenan. Karena undak usuk bahasa Sunda berasal dari bahasa Jawa, maka banyaklah terdapat kesamaan (MacDougall, 1994:1). Persamaannya ialah undak usuk bahasa Jawa dan bahasa Sunda terbagi menjadi tiga tingkatan. Selain itu, terdapat kosakata yang sama dalam penggunaan undak usuk baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Sunda. Untuk membuktikan hal tersebut di atas Coolsma (1985:15) pernah mengadakan penelitian kontrastif mengenai undak usuk bahasa Jawa dan undak usuk bahasa Sunda. Dia membandingkan 400 kata halus dan 400 kata kasar. Hasilnya ditemukan 300 kata halus dan 275 kata kasar bahasa Sunda yang berasal dari bahasa Jawa. Akan tetapi dalam pemakaiannya bercampur aduk. Menurut Prawirasumantri (2000:5) pembagian pengguna undak usuk bahasa Sunda berdasar kepada hal-hal berikut: (1) Ragam hormat dipergunakan untuk berbicara kepada (a) orang yang lebih tua usianya dan lebih tinggi status sosialnya, (b) orang yang baru dikenal atau belum akrab, (c) membicarakan orang yang lebih tua usianya dan lebih tinggi status sosialnya, (d) membicarakan diri sendiri atau sesama dengan menggunakan ragam hormat; (2) Ragam akrab dipergunakan untuk berbicara kepada (a) orang yang lebih muda atau lebih rendah status sosialnya, (b) orang yang sudah sangat akrab, (c) membicarakan orang yang lebih muda atau lebih rendah status sosialnya, (d) pada situasi wajar, dan (e) suasana formal akademis atau tulisan ilmiah. Bila dilihat dari konsepnya, pembagian penggunaan undak usuk bahasa Sunda seperti di atas, akan tampak bahwa penggunaan undak usuk bahasa Sunda bersifat heterogen. Konsep penggunaan bahasa didasari oleh teori dari de Saussure (1988:88). Menurut teori ini konsep penggunaan disebut dengan istilah parole. Parole adalah bahasa sebagaimana pemakaiannya, karena itu sangat tergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern. Fishman (1972:149) membedakan varia-si bahasa menurut para pemakai (users) dan pemakaiannya (uses). Variasi bahasa menu-rut para pemakai disebut dialek, sedangkan variasi bahasa menurut pemakaiannya disebut register. Dalam kaitannya dengan kajian ini, Halliday dalam Fishman menyatakan variasi bahasa yang dimaksud adalah register. Variasi tersebut dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, lawan berbicara, situasi, topik pembicaraan, dan sebagainya. Hymes dalam Bell (1976:80) merinci faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa dengan delapan faktor, yakni: (1) setting and scene (latar), yang mengacu kepada tempat dan waktu terjadinya komunikasi, (2) participant, yang mengacu pada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara, pengirim, pendengar, penerima, (3) ends (purpose and goals), yang mengacu pada tujuan dan hasil atau harapan mengadakan komunikasi, (4) act sequence, yang mengacu kepada bentuk dan isi pesan komunikasi, (5) key, yang mengacu pada gaya, ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi, (6) instrumentalities, yang mengacu kepada sarana perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan, bahasa, dan dialek, (7) norms, yang mengacu pada norma perilaku dalam interaksi, interpretasi komunikasi, dan (8) genres, yang mengacu pada bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi, misalnya: ceritera, puisi, dan prosa. Mengenai hal ini, Adiwidjaya (1951:53), salah seorang linguis Sunda, menyebutkan bahwa ekspresi ragam hormat dapat dilihat dari bentuknya yang berupa: (1) lisan (kosakata), (2) roman muka, (3) gerak, dan (4) intonasi. Selain itu, bahasa Sunda yang digunakan selalu bertalian dengan hal-hal sebagai berikut: (1) siapa yang berbicara, (2) struktur bahasa yang digunakan, (3) isi pokok atau makna yang akan diungkapkan, dan (4) suasana dan situasi pemakaian. Dengan demikian, dalam bahasa Sunda penggunaan ragam bahasa tersebut bertalian dengan (1) siapa yang berbicara, (2) struktur bahasa yang digunakan, (3) isi pokok atau makna yang akan disampaikan, dan (4) suasana dan situasi penggunaan (1989:45). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendapat para ahli bahasa Sunda sebagaimana telah dikemukakan di atas semuanya merujuk pada tiga tingkatan, yakni lemes ‘hormat’, sedeng ‘sedang’, dan kasar ‘akrab’. Dalam Kongres Basa Sunda 1988 di Cipayung, Bogor, diputuskan bahwa tingkatan dalam undak usuk bahasa Sunda disederhanakan lagi menjadi dua macam, yakni (1) basa hormat (bahasa halus) dan (2) basa loma (bahasa kasar). Begitu pula dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda I tahun 2001 di Bandung disarankan bahwa penggunaan undak usuk bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari perlu disederhanakan sehingga pemakaian undak usuk tidak menjadi penghambat komunikasi. Undak usuk bahasa Sunda dalam buku-buku pelajaran seyogyanya disederhanakan menjadi dua ragam, yaitu ragam hormat dan ragam loma (Kalawarta KIBS, Nomor 6, September 2001:11) Pertimbangan pembagian tingkatan undak usuk bahasa Sunda menjadi dua macam karena ragam hormat untuk orang lain dan diri sendiri dijadikan satu kelas, sedangkan ragam loma ‘akrab’ tetap berdiri sendiri. Namun, sampai Kongres Basa Sunda VII tahun 2001 yang dilaksanakan di Garut belum terdapat kesepahaman di antara para pakar bahasa Sunda mengenai bentuk ragam dan kosakatanya. Yang baru disepakati ialah bahwa undak usuk bahasa Sunda terdiri atas dua ragam, yakni ragam hormat dan ragam loma. Perubahan tingkatan dan jumlah kosakata undak usuk bahasa Sunda meru-pakan suatu hal yang alami. Hal ini sesuai dengan pendapat Pateda (1987:77) yang menyatakan bahwa bahasa tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Kedinamisan bahasa disebabkan oleh kedinamisan masyarakat pemakai bahasa. Oleh karena bahasa bersifat dinamis, terjadilah perubahan-perubahan terutama dalam hal penambahan kosakata dan juga aspek-aspek lain dari bahasa. Dalam penelitian ini, tingkatan undak usuk bahasa Sunda mengacu pada hasil Kongres Basa Sunda VII tahun 2001. Pembagiannya dirinci menjadi tiga bagian, yakni ragam hormat keur ka batur (ragam hormat untuk orang lain), ragam hormat keur ka diri sorangan (ragam hormat untuk diri sendiri), dan ragam loma (ragam akrab). Adapun untuk pembendaharaan kosakatanya mengacu pada pendapat Karna Yudibrata, Agus Suriamihardja, dan Iskandarwassid (1989: 52-68) yang mencantumkan bahwa jumlah kosakata undak usuk bahasa Sunda sebanyak 586 buah kata. Dari paparan yang telah disebutkan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan undak usuk bahasa Sunda adalah sistem penggunaan variasi bahasa Sunda berdasarkan tingkat tutur, yakni ragam hormat untuk orang lain (ragam hormat keur ka batur), ragam hormat untuk diri sendiri (ragam hormat keur ka sorangan), dan ragam akrab (ragam loma). Pemakain undak usuk bahasa Sunda ditentukan oleh kekuasaan, kedudukan (status relatif), dan keakraban; serta berhubungan dengan peran pembicara dan yang diajak bicara.

DAFTAR RUJUKAN

Alwi, Hasan, “Kebijakan Bahasa Daerah,” ed. Dendy Sugono dan Abdul Rozak Zaidan. Bahasa Daerah dan Otonomi Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2001.

Langauge Contact and Bilingualism. London: Edward Arnold,  1988.

Ardiwinata,  D. K.  Tata Bahasa Sunda. Jakarta: Balai Pustaka,  1984.

Bell, R. Sociolinguistics: Goal, Approaches and Problems.  London: Bastford,  1976.  

Coolsma,  S. Tata Bahasa Sunda (terjemahan Husein Widjajakusumah dan Yus Rusyana). Jakarta: Djambatan,  1985.

Crystal, David. The Cambridge Encyclopedia of Language. New York: Cambridge University Press,  1998.

Djajasudarma, F. dan Idat A. “Studi Kasus Undak Usuk Basa Sunda: Pangrewong kana Sabagian Makalah Ajip Rosidi” ed. Ajip Rosidi. Polemik Undak usuk Basa Sunda. Bandung: PT Mangle Panglipur, 1987.

Djajawiguna, I.  Buldan. Kandaga Tata Basa Sunda. Bandung: Tarate,  1978.

Fishman,  Joshua.  Readings in the Sociology of  Language. The Hague: Mouton,  1972.

Fishman, Joshua. Bilingual Education: An International Sociological Perspective. Rowley,  MA: Newbury House,  1976.

Grosjean, Francois. Life with Two Languages. Cambridge: Harvard University Press, 1982.

Gumperz,  J. J. and D. Hymes. Direction in Sociolinguistics. New York:,  1986.

Holmes,  Janet. An Introduction to Sociolinguistics. London: Longman,  1994.

Holmes, Janet, et. al.  “Language Maintenance and Shift in Three New Zealand Speech Community” dalam Applied Linguistics,  Vol.  14 No.  1,  1993,  p. 14.

Holmes, Janet.  An Introduction to Sociolinguistics. London: Longman.

Kalawarta KIBS,  Nomor 6,  September 2001.

Kats,  J.  dan M. Soeriadiradja. Tata bahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda. Jakarta: Djambatan,  1984.

Panitia Parumus Kongres. Hasil Kongres Basa Sunda di Cipayung Bogor. Bandung: Karya Kita,  1988.

Pateda, Mansoer. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa, 1987.

Prawirasumantri, Abud. “Ngarekayasa Undak Usuk Basa Sunda,” makalah disampaikan dalam Kongres Basa Sunda VII, Garut, 10-12 November 2001.

Richards, Jack,  John Platt,  and Heidi Weber.  Longman Dictionary of Applied Linguistics.   Longman House,  Burnt Mill,  Harlow: Longman Group UK Limited,  1987. 

“Rumusan Seminar Politik Bahasa” ed. Hasan Alwi dan Dendy Sugono. Politik Bahasa: Risalah Seminar Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa, 2000. 

Rusyana, Yus.  Perihal Kedwibahasaan. Bilingualisme. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenega kependidikan,  1989.

Suwito.  Pengantar Awal Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Offset,  1985.  

Syafi’ie, Imam. Terampil Berbahasa Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka,  1996.

Wardhaugh, R. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell,  1976.

Yudbirata, Karna,  Agus Suriamihardja, dan Iskandarwassid.  Bagbagan Makéna Basa Sunda. Bandung: Rahmat Cijulang,  1989.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: