Iyosrosmana’s Blog

30 September 2009

Metode Pembelajaran Membaca Struktur Analitik Sintesis (SAS)

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 1:10 pm

 

SAS merupakan singkatan dari Struktural Analitik Sintetik. SAS merupakan salah satu jenis metode yang biasa digunakan untuk proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula. Pembelajaran membaca dan menulis permulaan (MMP) dengan metode ini mengawali pelajarannya dengan menampilkan dan mengenalkan sebuah kalimat utuh.

Mula-mula anak disuguhi sebuah struktur yang memberi makna lengkap, yakni struktur kalimat. Hal ini dimaksudkan untuk membangun konsep-konsep kebermaknaan pada diri anak. Akan lebih baik jika struktur kalimat yang disajikan sebagai bahan pembelajaran MMP dengan metode ini adalah struktur kalimat yang digali dari pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri. Untuk itu, sebelum KBM MMP yang sesungguhnya dimulai, guru dapat melakukan pra-KBM melalui berbagai cara. Sebagai contoh, guru dapat memanfaatkan rangsang gambar, benda nyata, tanya-jawab informal untuk menggali bahasa siswa.

Setelah ditemukan suatu struktur kalimat yang dianggap cocok untuk materi MMP, barulah KBM MMP yang sesungguhnya dimulai. MMP dimulai dengan pengenalan struktur kalimat. Kemudian, melalui proses analitik, anak-anak diajak untuk mengenal konsep kata. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar untuk pembelajaran membaca permulaan ini diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil yang disebut kata.

Proses penganalisisan atau penguraian ini terus berlanjut hingga sampai pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf. Dengan demikan, proses penguraian/ penganalisisan dalam pembelajaran MMP dengan metode SAS, meliputi: 1. kalimat menjadi kata-kata; 2. kata menjadi suku-kata; dan 3. SAS menjadi huruf-huruf. Pada tahap selanjutnya, anak-anak didorong untuk melakukan kerja sintesis (menyimpulkan). Satuan-satuan bahasa yang telah terurai tadi dikembalikan lagi kepada satuannya semula, yakni dari huruf-huruf menjadi SAS, suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat.

Dengan demikan, melalui proses sintesis ini, anak-anak akan menemukan kembali wujud struktur semula, yakni sebuah kalimat utuh. Melihat prosesnya, tampaknya metode ini merupakan campuran dari metode-metode membaca permulaan seperti yang telah kita bicarakan di atas. Oleh karena itu, penggunaan metode SAS dalam pengajaran MMP pada sekolah-sekolah kita di tingkat SD pernah dianjurkan, bahkan diwajibkan sebagai kelebihan dari metode ini, di antaranya sebagai berikut: 1. metode ini sejalan dengan prinsip linguistik (ilmu bahasa) yang memandang satuan bahasa terkecil yang bermakna untuk berkomunikasi adalah kalimat. Kalimat dibentuk oleh satuan-satuan bahasa di bawahnya, yakni kata, SAS, dan akhirnya fonem (huruf-huruf); 2. metode ini mempertimbangkan pengalaman berbahasa anak. Oleh karena itu, pengajaran akan lebih bermakna bagi anak, karena bertolak dari sesuatu yang dikenal dan diketahui anak. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap daya ingat dan pemahaman anak; 3. metode ini sesuai dengan prinsip inkuiri (menemukan sendiri). Anak mengenal dan memahami sesuatu berdasarkan hasil temuannya sendiri.

Dengan begitu, anak akan merasa lebih percaya diri atas kemampuannya sendiri. Sikap seperti ini akan membantu anak dalam mencapai keberhasilan belajar.

Metode Pembelajaran Membaca

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 1:06 pm

Metode pembelajaran membaca tidak terlepas dari pendekatan pembelajaran bahasa. Salah satu pendekatan pembelajaran bahasa yang diterapkan pada saat ini adalah pendekatan Whole Language. Pendekatan ini menyikapi bahasa sebagai gejala plural yang mempunyai keutuhan. Sebab itu dalam pembelajaran bahasa harus diajarkan secara utuh, padu, dan berkesinambungan. Pembelajaran ihwal bunyi, ejaan, pembentukan dan makna kata maupun kalimat misalnya, antara yang satu dengan yang lain harus memiliki pertalian secara jelas sehingga hasil belajarnya membuahkan pengalaman belajar dan pemahaman secara utuh dan padu. Keutuhan dan keterpaduan pengalaman belajar dan pemahaman itu diharapkan dapat dimanfaatkan dalam penggunaan bahasa secara reseptif maupun produktif, terutama dalam pembelajaran membaca. Dalam konteks yang lebih luas juga dikenal adanya pendekatan menyangkut perencanaan dan pembelajaran secara terpadu. Pendekatan demikian dilandasi konsepsi bahwa pemahaman dan keterampilan yang perlu dimiliki anak antara satu dengan yang lain seharusnya memiliki hubungan. Sebab itu berbagai materi yang mereka terima di sekolah sebenarnya memiliki hubungan saling ketergantungan. Alasan demikian juga diperkuat kenyataan bahwa dalam mengisi kehidupannya, anak dituntut untuk mengembangkan kemampuan secara interdisipliner. Dua terminologi yang lazim dihubungkan dengan perencanaan dan pembelajaran terpadu adalah proses dan produk yang dicapai anak. Dalam pembelajaran membaca, siswa dituntut untuk memadukan proses dan produk membaca. Pembelajaran terpadu berisi konsepsi bahwa berbagai disiplin atau pelajaran antara satu dengan yang lain idealnya memiliki kesinambungan. Sebab itu isi pembelajarannya tidak harus dibatasi secara ketat karena ditinjau dari proses belajar dan berpikirnya, pemahaman isi pembelajaran pada disiplin yang satu dengan disiplin yang lain seharusnya mampu membentuk keutuhan. Bagi de Vries dan Crawford, Unlike many approaches to curriculum planning, the integrated curriculum is interdisciplinary and demonstrates the interdependent nature of the subject disciplines (de Vries & Crawford, 1989). Dengan kata lain, pengembangan pembelajaran membaca dengan pendekatan terpadu bersifat interdisipliner dalam menghubungkan isi pembelajaran dengan potensi siswa serta proses pembelajaran. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan pembelajaran membaca di SD. Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan “Whole Language”. Huruf yang dikenalkan kepada siswa adalah huruf i, n, u, b, a. Kegiatan pembelajaran diawali dengan menatap tulisan “ibu” yang disajikan oleh guru, setelah itu guru membahas tulisan itu sebagai area isi pembelajaran dengan dipadukan pada huruf-huruf lain (i, n, u, b, a). Model pembelajaran itu selengkapnya disajikan berikut ini. 1. Ibu Menatap Guru bercerita tentang ibu sambil menempel gambar ibu di papan tulis. Beberapa orang siswa disuruh bercerita tentang ibunya. Guru kemudian berkata, “Gambar ibu dapat dibaca seperti tulisan ini,” lalu guru menuliskan kalimat: ini ibu di papan tulis atau menempelkan kalimat ini ibu di dekat gambar ibu. Siswa disuruh menatap tulisan guru di papan tulis. Guru kemudian membaca tulisan tersebut dengan suara nyaring. Dengan aba-aba dari guru, siswa disuruh menirukan bunyi tulisan yang dibacakan guru tadi. Beberapa orang siswa disuruh membaca tulisan tersebut. “Anak-anak, coba perhatikan sekali lagi tulisan di papan tulis.” Beberapa saat kemudian, guru berkata, “Tutuplah matamu dan bayangkan tulisan yang terdapat dan papan tulis.” Guru kemudian menutup/menanggalkan kartu kata ibu dan yang tinggal kartu kata ini. Guru kemudian berkata, “Bukalah matamu! Apa yang kamu lihat?” Tentu saja berbagai jawaban siswa, kemudian guru melanjutkan, “Mari kita baca: ini” Langkah 1 ini unsur kalimat (kata) Langkah 2 i ni unsur kata (SAS) Langkah 3 i n i unsur SAS (huruf) Langkah 4 i ni unsur kata (SAS) Langkah 5 ini unsur kalimat (kata) Para siswa membaca, dan kemudian siswa disuruh menutup matanya. Kemudian guru menyuruh lagi. “Coba tuliskan dengan jarimu di udara ini.” Selama para siswa menutup mata dan menulis di udara. guru menutup tulisan tersebut. Sementara tulisan di papan tulis masih ditutup, guru menyuruh siswa-siswa membuka matanya dan kemudian disuruh menulis kata yang diingatnya itu pada buku tulis siswa masing-masing. Guru sebaiknya berkeliling untuk membantu, apabila terdapat kesalahan yang dilakukan oleh siswa, maka siswa yang bersangkutan disuruh memperbaikinya kembali. Setelah mereka menguasai membaca dan menulis ini kemudian guru mulai menganalisis (SAS) kata ibu dengan rincian seperti: Langkah 1 ibu unsur kalimat (kata) Langkah 2 i bu unsur kata (SAS) Langkah 3 i b u unsur SAS (huruf) Langkah 4 i bu unsur kata (SAS) Langkah 5 ibu unsur kalimat (kata) Pada langkah kedua (tidak dibaca dengan suara lambat) guru menjelaskan bahwa kata ini terdiri dari i dan ni sedangkan pada langkah ketiga guru menjelaskan bahwa kata ini yang diuraikan menjadi i n i itu terdiri dari huruf-huruf i, n, dan i. Kegiatan yang sama untuk kata ibu. Guru dapat saja memulai dengan kalimat ini ibu. Langkah kegiatannya sama saja dengan kegiatan S,A,S, dimulai dari kalimat, ke unsur kalimat (kata), ke unsur kata (SAS), ke unsur SAS (huruf), demikian seterusnya dan kembali lagi ke kalimat. Kemudian guru berkata, “Mari kita bermain dengan kartu huruf!” Guru menyiapkan kartu huruf masing-masing beberapa lembar. Beri siswa-siswi semacam teka-teki untuk menemukan unsur kata (SAS), unsur SAS (huruf) yang hilang.  Dilanjutkan dengan bermain kartu kata untuk mengenalkan huruf u dan b. Diulang berkali-kali dan diharapkan sebagian besar siswa memahaminya. Metode yang digunakan tergantung kepada guru sendiri, dilakukan secara bervariasi. Metode yang dapat digunakan antara lain SAS, bunyi, global, pemberian tugas, diskusi, dan tentu saja selalu memperhatikan keterampilan proses apa yang hendak dikembangkan. Apabila guru menganggap ada metode yang paling cocok untuk kondisi kelas tersebut, maka guru sebaiknya menggunakan metode tersebut, sebab tujuan utama membaca menulis permulaan (MMP) di kelas 1 dan 2 adalah agar para siswa pandai membaca dan menulis dengan benar. Karena itu pula, guru perlu melakukan pendekatan yang bersifat Individual pada setiap siswanya. Setelah siswa mengenal dan memahami fungsi huruf i, n, b, u di atas, lanjutkan lagi dengan mengenalkan huruf a untuk membentuk kata yang lain, misalnya kata abu dalam kalimat ibu, ini abu. Selanjutnya kata abu diajarkan (di-SAS-kan) seperti pada kata ini dan ibu. Lanjutkan dengan permainan teka-teki huruf yang hilang. Misalnya: Menyusun Huruf Menjadi Kata Mengombinasikan huruf-huruf yang sudah dikenal, misalnya dari kita ibu menjadi kata ubi. Kemudian susunlah kalimat baru dengan kata baru tersebut. Guru membimbing para siswa membaca dan menulis kalimat ini ani dengan langkah kegiatan dengan urutan unsur kalimat, unsur kata, unsur SAS, unsur huruf, unsur SAS, unsur kata, dan unsur kalimat, kata yang di-SAS-kan adalah ani. Selanjutnya, siswa mengamati pembentukan kalimat ini ibu ani yang terdiri dari kata-kata ini, ibu, dan ani. Para siswa disuruh menempel kartu kata/ menuliskan kata yang hilang, yaitu ini kemudian ini ibu. Sebagai selingan, ajaklah para siswa untuk menyanyikan lagu

“Kasih Ibu”

Kasih Ibu Kasih ibu kepada beta

 Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

 

Kegiatan selanjutnya adalah permainan dengan SAS yang hilang. Siswa mengamati pembentukan kata dari unsur kata (SAS) yang hilang.  Kegiatan ini dapat dilakukan secara perorangan, berpasangan atau berkelompok, divariasikan dengan kegiatan membaca, menulis dan atau sebaliknya, atau bermain kartu huruf/ kartu SAS untuk membentuk kata-kata baru yang ada artinya oleh siswa sendiri. Ulangi berkali-kali dengan bermain SAS seperti bagian di atas ini. Guru membuat sendiri bahan lain yang tetap menggunakan huruf-huruf tersebut, baik menyusun kata baru atau menyusun kalimat baru dari kata-kata yang baru pula. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan latihan yang bervariasi baik dilakukan di papan tulis maupun di buku siswa. Apabila guru yakin atau sekedar menguji kemampuan siswa-siswa, coba mulai melatihnya dengan dikte. Pada latihan dikte ini, menatap (melihat, menutup mata), menatap dan mengucapkan kemudian baru disuruh menuliskan kata atau kalimat yang didiktekan guru.

19 Juni 2009

Populasi dan Sampel

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 4:20 pm

1. Pengertian Populasi

Sugiyono (2001: 55) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek itu.

Menurut Margono (2004: 118), populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya. Kalau setiap manusia memberikan suatu data maka, maka banyaknya atau ukuran populasi akan sama dengan banyaknya manusia. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 108).

Kerlinger (Furchan, 2004: 193) menyatakan bahwa populasi merupakan semua anggota kelompok orang, kejadian, atau objek yang telah dirumuskan  secara jelas. Nazir (2005: 271) menyatakan bahwa populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan. Kualitas atau ciri tersebut dinamakan variabel. Sebuah populasi dengan jumlah individu tertentu dinamakan populasi finit sedangkan, jika jumlah individu dalam kelompok tidak mempunyai jumlah yang tetap, ataupun jumlahnya tidak terhingga, disebut populasi infinit. Misalnya, jumlah petani dalam sebuah desa adalah populasi finit. Sebaliknya, jumlah pelemparan mata dadu yang terus-menerus merupakan populasi infinit.

Pengertian lainnya, diungkapkan oleh Nawawi (Margono, 2004: 118). Ia menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian. Kaitannya dengan batasan tersebut, populasi dapat dibedakan berikut ini.

  1. Populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memiliki batas kuantitatif secara jelas karena memilki karakteristik yang terbatas. Misalnya 5.000.000 orang guru SMA pada awal tahun 1985, dengan karakteristik; masa kerja 2 tahun, lulusan program Strata 1, dan lain-lain.
  2. Populasi tak terbatas atau populasi tak terhingga, yakni populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif.  Misalnya guru di Indonesia, yang berarti jumlahnya harus dihitung sejak guru pertama ada sampai sekarang dan yang akan datang.

Dalam keadaan seperti itu jumlahnya tidak dapat dihitung, hanya dapat digambarkan suatu jumlah objek secara kualitas dengan karakteristik yang bersifat umum yaitu orang-orang, dahulu, sekarang dan yang akan menjadi guru. populasi seperti ini disebut juga parameter.

Selain itu, menurut Margono (2004: 119) populasi dapat dibedakan ke dalam hal berikut ini:

  1. Populasi teoretis (teoritical population), yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya ditetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi populasi yang lebih luas, maka ditetapkan terdiri dari guru; berumus 25 tahun sampai dengan 40 tahun, program S1, jalur skripsi, dan lain-lain.
  2. Populasi yang tersedia (accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota Bandung terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah ditetapkan dalam populasi teoretis.

Margono (2004: 119-120) pun menyatakan bahwa persoalan populasi penelitian harus dibedakan ke dalam sifat berikut ini:

  1. Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan sebotol darah, hasilnya akan sama saja.
  2. Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Penelitian di bidang sosial yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia menghadapi populasi yang heterogen.

 

2. Pengertian Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 109; Furchan, 2004: 193). Pendapat yang senada pun dikemukakan oleh Sugiyono (2001: 56). Ia menyatakan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif.

Margono (2004: 121) menyataka bahwa sampel adalah sebagai bagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Hadi (Margono, 2004: 121) menyatakan bahwa sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan hal berikut:

  1. Peneliti bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja.
  2. Penelitian bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil-hasil kepenelitiannya, dalam arti mengenakan kesimpulan-kesimpulan kepada objek, gejala, atau kejadian yang lebih luas.

Penggunaan sampel dalam kegiatan penelitian dilakukan dengan berbagai alasan. Nawawi (Margoino, 2004: 121) mengungkapkan beberapa alasan tersebut, yaitu:

  1. Ukuran populasi

Dalam hal populasi ta terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena itu sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta murid sekolah dasar yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, misalnya.

1. Masalah biaya

Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih-lebih bila objek itu  tersebar di wilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.

2. Masalah waktu

Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu, apabila waktu yang tersedia terbatas, dan keimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian sampel, dalam hal ini, lebih tepat.

3. Percobaan yang sifatnya merusak

Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.

4. Masalah ketelitian

Masalah ketelitian adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat dipertanggungjawabkan. Ketelitian, dalam hal ini meliputi pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu ketelitian terselenggara. Boleh jadi peneliti akan bosan dalam melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua, penelitian terhadap sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.

5. Masalah ekonomis

Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seorang peneliti; apakah kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya, waktu dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada penelitian populasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Burchan, A. (2004). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 Margono. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

 Nazir. (2005). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

 Sugiyono. (2001). Statistika untuk Penelitain. Bandung: Alfabeta.

 

 

11 Juni 2009

Frasa

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 2:37 pm

 

           Frasa adalah  satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas unsur klausa. Dari pengertian tersebut dapat diktakan bahwa frasa mempunyai dua sifat, yaitu: 1) Frasa merupakan satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih; 2) Frasa merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa, maksudnya frasa itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa, yaitu S, P, O, PEL, atau KET.

 

3.1.1 Kategorisasi Frasa

            Berdasarkan distribusinya ada dua macam frasa, yaitu:

1)     Frasa Endosentrik ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya.

2) Frasa Eksosentrik adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya.

Berdasarkan kategorisasi kata ada lima macam frasa, yaitu:

1) Frasa Nominal adalah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal.

2)      Frasa Verbal ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal.

3)      Frasa Bilangan ialah prasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilangan.

4)      Frasa Keterangan ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata keterangan.

5)      Frasa Depan ialah frasa yang terdiri atas dari kata depan sebagai penanda diikuti oleh kata atau frasa sebagai aksisnya.

 

a.  Frasa Endosentrik

               Fasa endosentrik dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu:

 

1) Golongan Endosentrik  yang Koordinatif

          Frasa ini terdiri atas unsur-unsur yang setara/mempunyai fungsi yang sama dengan semua unsur langsungnya. Kesetaraan itu dapat dibuktikan oleh kemungkinan unsur-unsur itu dihubungan dengan kata penghubung dan atau atau. Dengan demikian, dapatlah kita simpulkan bahwa frasa endosentrik yang koordinatif itu ialah frasa yang unsur-unsurnya pembentuknya dapat dihubungkn oleh kata dan atau atau, misalnya: ayah ibu. dua tiga (hari), belajar bekerja.

 

2)    Frasa Endosentrik yang Atributif

              Berbeda dengan frasa endosentrik yang koordinatif frasa golongan ini terdiri atas unsur-unsur yang tidak setara. Karena itu unsur-unsurnya tidak mungkin dihubungkan dengan kata penghubung dan atau atau, misalnya: sekolah inpres, baju baru, jendela rumah, sedang bernyanyi. Kata-kata yang bercetak miring dalam frase diatas yaitu sekolah, baju, dan jendela, merupakan unsur pusat (UP). Unsur pusat ialah unsur yang secara distribusi sama dengan seluruh frasa dan secara semantik merupakan unsur yang terpenting. Sedangkan unsur lainnya seperti inpres, baju, rumah, dan sedang merupakan atributif (Atr.)

 

3)    Frasa Endosentrik Apositif

              Frasa endosntrik apositif secara semantik unsur yang satu sama dengan unsur lainnya. Misalnya: Yogya, kota pelajar, ramai dikunjungi wisatawan manca negara. Unsur utama frasa tersebut ialah Yogya. Unsur keduanya ialah kota pelajar. Dalam kalimat tersebut unsur kedua memiliki unsur yang sama dengan unsur yang pertama. Karena sama, maka unsur kota pelajar dapat menggantikan unsur Yogya. Hal ini dapat dilihat dalam kalimat  berikut:

a)  Yogya, kota pelajar,  ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.

Unsur Yogya yang merupakan unsur pusat (UP), sedangkan unsur kota pelajar merupakan aposisi (AP).  Conto lain misalnya:

b)     Indonesia, tanah airku

c)      Asep, teman karibku

d)     SBY, Presidenku

 

b.     Frasa Eksosentrik

              Frasa eksosentrik ialah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya.

              Frasa di Bandung, ke Jakarta, dan si miskin, merupakan contoh frasa eksosentrik. Sebab, frasa di Bandung, ke Jakarta, maupun si miskin, tidak dapat berdistribusi sama dengan semua atau salah satu unsur pembentuknya. Ketidaksamaannya dapat dilihat dari jajaran di bawah ini:

    

  1. Arif bertempat tinggal di –
  2. Arif bertempat tinggal – Bandung
  3. Minggu yang lalu kami pergi ke -
  4. Minggu yang lalu kami pergi – Jakarta
  5. Pada hari raya Idul Fitri si- pun ikut bergenbira
  6. Pada hari raya Idul Fitri – miskin pun ikut bergembira

      

c. Frasa Berdasarkan Katagori Kata

            Berdasarkan kategorisasi kata ada lima macam frasa, yaitu: 1) frasa nominal, 2) frasa verbal, 3) frasa bilangan, 4)  frasa keterangan, dan 5) frasa depan.

 

1) Frasa Nominal (Frasa Benda)

          Frasa nominal ialah frasa yang memiliki distribusi yang sama dengan kata nominal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran:

Ia membeli baju baru

Ia membeli baju

            Frasa baju baru dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata baju. Kata baju termauk golongan kata nomial, karna itu, frasa baju baru termasuk golongan frasa nominal. Contoh-contoh lain, misalnya: mahasiswa lama, gedung sekolah, dosen yang bijaksana,  kapal terbang itu, jalan raya ini, yang akan pergi.

 

2)  Frasa Verbal

           Frasa verbal atau frasa golongan V ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata verbal. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari adanya jajaran:

Dua orang mahasiswa       sedang membaca  buku baru di perpustakaan.

Dua orang mahasiswa – membaca buku baru di perpustakaan.

          Frasa sedang membaca dalam klausa di atas mempunyai distribusi yang sama dengan kata membaca. Kata membaca termasuk golongan V, karena itu frasa sedang membaca juga termasuk golongan V.

           Frasa akan pergi terdiri atas unsur akan dan pergi. Kata akan termasuk golongan kata tambah (T), sedangkan kata pergi termasuk golongan V. Jadi secara katagorial frase tersebut terdiri atas T sebagai Art diikuti V sebagai UP. 

 

3) Frasa Bilangan

          Frasa bilangan ialah frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata bilanagn. Misalnya frase dua buah dalam dua buah rumah. Frase ini mempunyai distribusi yang sama dengan kata dua. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dengan jelas dari jajaran:

Dua buah rumah

Dua – rumah

 

4) Frasa Keterangan

           Frasa keterangan ialah frasa yang mempunyai distribusi yang sama dengan kata katerangan. Misalnya frasa tadi malam yang mempunyai persamaan distribusi dengan kata tadi. Persamaan distribusi itu dapat diketahui dari jajaran:

Tadi malam Ahmad menghadiri pertemuan keluarga.

Tadi – Ahmad menghadiri pertemuan keluarga.

 

5) Frase Depan

                Frasa depan ialah frasa yang terdiri atas kata depan sebagi penanda, diikuti oleh kata atau frasa sebagai aksisnya. Farsa di sebuah rumah terdiri atas kata depan di sebagai penanda, diikuti frasa sebuah rumah sebagai aksisnya. Kata depan menandai berbagai makna. Dalam frasa di sebuah rumah kata depan di menandai hubungan makna ‘keberadaan’ di suatu tempat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ramlan, M.  1978. Kata Verbal dan Proses vebalisasi dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Gajah Mada.

Ramlan, M.  1983. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta:  CV. Karyono.

Samsuri.  1994. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa secara Ilmiah.  Jakarta: Erlangga. 

Slametmuljana. 1969. Kaidah Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah

Tarigan, Hendri Guntur. 1995. Pengajaran Morfologi.  Bandung:  Angkasa.

Semantik atau Ilmu Makna

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 2:17 pm

 

A.    Pengertian dan Cakupan Semantik

            Semantik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari segala sesuatu tentang makna. Semantik berada di luar gramatika bahasa yang lain halnya dengan morfologi dan sintaksis yang berada pada tataran gramatika bahasa. Cakupan semantik sangat luas mencakup semua tataran bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, paragraf, maupun wanaca. Dengan demikian, semantik adalah ilmu makna, membicarakan makna, bagaimana mula adanya makna sesuatu, bagaimana perkembangannya, dan mengapa terjadi perubahan makna dalam sejarah bahasa.

          Semantik dapat menampilkan sesuatu yang abstrak, dan apa yang ditampilkan oleh semantik sekadar membayangkan kehidupan mental pemakai bahasa. Kehidupan mental pemakai bahasa, sangatlah luas yang mempengaruhinya karena pemakai bahasa dapat ditinjau dari dua sisi kehidupannya, yaitu hidup sebagai makhluk individu maupun hidup sebagai makhluk sosial di dalam masyarakat. Dengan hidup bermasyarakat pemakai bahasa terus berkembang dengan demikian tidaklah mengherankan bila kehidupan mental, isi mental, penampilan mental bahasa berkembang pula. 

          Selain semantik berhubungan erat dengan kehidupan sosial yang selanjutnya dapat dikaji dalam kaitan hubungan antara semantik dengan sosiologi, semantik juga mempunyai hubungan yang tidak lepas pentingnya dalam perkembangan ilmu bahasa secara khusus maupun perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya. Dapat dilihat bagaimana hubungan semantik dengan ilmu filsafat, dalam rangka mengkaji makna berdasarkan filosofisnya; semantik dengan ilmu antropologi, dalam kaitan mengkaji makna bahasa dalam unsur-unsur budaya; semantik dengan psikologi, dalam rangka kajian makna bahasa yang dikaitkan dengan situasi kejiwaan manusia pemakai bahasa; dan semantik dengan linguistik sebagai ilmu induknya, serta tidak menuntut kemungkitan semantik dapat berhubungan dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya dalam rangka menemukan makna-makna bahasa dalam setiap bidang kehidupan.

 

B.    Ilmu Makna

               Makna merupakan aspek penting dalam sebuah bahasa karena dengan makna maka sebuah komunikasi dapat terjadi dengan lancar dan saling dimengerti. Tetapi seandainya para pengguna bahasa dalam bertutur satu sama lain tidak saling mengerti makna yang ada dalam tuturannya maka tidak mungkin tuturan berbahasa bisa berjalan secara komunikatif. Di sini dituntut antara penutur dan lawan tuturnya harus saling mengerti makna bahasa yang mereka tuturkan.

          Di dalam semantik, istilah makna, dalam bahasa Inggris sense dibedakan dari ‘arti’, dalam bahasa Inggris meaning. Arti dalam hal ini menyangkut makna leksikal dari kata-kata tersebut yang cenderung terdapat di dalam kamus sebagai leksem. Kadang-kadang kita melihat makna kata dari kamus yang sebenarnya adalah makna leksikal, atau keterangan dari leksem itu sendiri. makna suatu kata tidak hanya mengandung makna leksikal saja tetapi menjangkau kesatuan bahasa yang lebih luas. Makna kata tidak lepas dari makna kata yang lainnya merupakan makna gramatikal yang sesuai dengan hubungan antarunsur-unsurnya. Terkadang kita tidak puas ketika mencari makna sebuah kata, terutama makna idiom, peribahasa, majas, metapora, maupun ungkapan.

               Aspek makna terdiri atas empat, yaitu pengertian, perasaan, nada, dan tujuan. Keempat aspek makna tersebut dapat dipertimbangkan melalui pemahaman makna dalam proses komunikasi sebuah tuturan. Makna pengertian dapat kita terapkan di dalam komunikasi sehari-hari yang melibatkan tema, sedangkan makna perasaan, nada, dan tujuan dapat kita pertimbangkan melalui penggunaan bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.

              Medan makna adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian bidang kehidupan atau realitas dalam alam semesta tertentu yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan, sedangkan komponen makna adalah satu atau beberapa unsur yang bersama-sama membentuk makna kata atau ujaran dalam suatu komunikasi. Kata-kata atau leksem-leksem dalam sebuah medan makna atau satu medan leksikal dapat dianalisis dengan menggunakan analisis komponen makna atau analisis ciri-ciri makna atau analisis ciri-ciri leksikal. 

 

C.    Relasi Makna

Yang dimaksud dengan relasi makna adalah hubungan semantic yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan satuan bahasa yang lainnya. Satuan bahasa ini dapat berupa kata, frase, klausa, maupun kalimat. Hubungan-hubungan relasi makna ini dapat menyatakan kesamaan makna yang disebut sinonimi, pertentangan atau perlawanan makna yang disebut antonimi, ketercakupan makna yang disebut hiponimi, kegandaan makna yang disebut homonimi, atau juga kelebihan makna yang dinamakan polisemi.

Unsur-unsur leksikal dalam bahasa dapat dibandingkan menurut hubungan semantik, di antaranya dapat berupa sinonim, hubungan yang sama atau hampir sama (mirip); berupa antonim, hubungan yang maknanya berlawanan atau kebalikan; berupa homonim, hubungan yang bermakna lain tetapi bentuk sama; berupa hiponim, hubungan yang makna ekstensionalnya merupakan sebagian dari makna ekstensional yang lainnya.

 

Unsur Semantik dan Jenis Makna

A.    Unsur Semantik

               Lambang menurut Plato adalah kata di dalam suatu bahasa, sedangkan makna adalah objek yang dihayati di dunia, berupa rujukan yang ditunjuk oleh lambang tersebut. Hubungan lambang dengan bahasa dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang terdiri atas tanda dan lambang.

          Makna leksikal adalah makna hubungan antara kata-kata dengan unsure-unsur tertentu dalam sebuah peristiwa bahasa. Hubungan antara kata, makna kata, dan dunia kenyataan disebut hubungan referensial. Hubungan referensial adalah hubungan-hubungan yang terdapat pada, antara (1) kata sebagai satuan fonologis, yang membawa makna, (2) makna atau konsep yang dibentuk oleh kata, dan (3) dunia kenyataan yang ditunjuk (diacu) oleh kata.

          Suatu nama dapat berfungsi sebagai istilah, istilah-istilah akan menjadi jelas bila diberi definisi, demikian pula nama. Istilah sama halnya dengan definisi, keduanya berisi pembahasan tentang suatu fakta, peristiwa atau kejadian, dan proses.

 

B.    Jenis Makna

          Karena bahasa itu digunakan untuk berbagai kegiatan dan keperluan dalam kehidupan masyarakat, maka makna bahasa itupun menjadi bermacam-macam bila dilihat dari segi atau pandangan yang berbeda.

          Kurang lebih ada dua belas jenis makna yang terdapat dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Kedua belas jenis makna tersebut adalah makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif dan makna emotif, makna referensial, makna konstruksi, makna leksikal dan makna gramatikal, makna idesional, makna proposisi, makna pusat, makna piktorial, dan makna idiomatik. Ada juga yang membagi jenis makna berdasarkan kesamaan atau lawan makna-makna yang lain, seperti Chaer (1994) membagi jenis makna menjadi:

  1. makna leksikal, gramatikal, dan kontekstual;
  2. makna referensial dan non-referensial;
  3. makna denotative dan makna konotatif;
  4. makna konseptual dan makna asosiatif;
  5. makna kata dan makna istilah; dan
  6. makna idiom dan makna peribahasa.

Sementara, Kridalaksana (1993) dalam Kamus Linguistik, menyebutkan jenis-jenis makna seperti: makna denotatif, makna ekstensi, makna gramatikal, makna hakikat, makna intensi, makna kiasan, makna kognitif, makna konotatif, makna konstruksi, makna kontekstual, makna leksikal, makna luas, makna majas, makna pusat, makna referensial, makna sempit, dan makna tak berciri.

Aspek adalah cara memandang struktur temporal intern suatu situasi (Comrie, 1976: 3).  Situasi dapat berupa keadaan, peristiwa, dan proses. Keadaan sifatnya statis, sedangkan peristiwa dan proses bersifat dinamis. Peristiwa dikatakan dinamis jika dipandang secara keseluruhan (prefektif), dan proses sifatnya dinamis jika dipandang sedang berlangsung (imperfektif). Perfektif atau situasi lengkap dapat dilihat dari awal, tengah, dan akhir. Imperfektif dengan konsep duratif menunjukkan proses sedang berlangsung, termasuk kebiasaan.

          Ketiga unsure (aspek, kala, dan nomina temporal) memiliki hubungan yang erat. Keaspekan, kala, dan nomina temporal berbeda dalam hal: aspek berhubungan erat dengan macam perbuatan (situasi), tidak mempersoalkan tempatnya di dalam waktu, sedangkan kala dan nomina temporal menunjukkan terjadinya suatu perbuatan. Ketiga unsur tersebut termasuk struktur temporal, dapat membatasi situasi secara deiktik temporal. 

          Semua leksem persona adalah deiksis. Leksem ruang dan waktu, ada yang deiksis ada pula yang tidak deiksis. Leksem ruang yang tidak deiksis menjadi deiksis apabila dirangkaikan dengan leksem persona. Leksem ruang ada yang dipergunakan untuk mengungkapkan pengertian waktu tetapi hal sebaliknya tidak terjadi.

          Deiksis dapat dibagi menjadi dua, yaitu eksopora dan endopora. Eksopora (deiksis luar tuturan) membicarakan tentang semantic leksikal, sedangkan endopora (deiksis dalam tuturan) membicarakan masalah sintaksis.

 

Ketaksaan (Ambiguitas) dan Perubahan Makna

A.    Ketaksaan (Ambiguitas)

          Ketaksaan atau ambiguitas merupakan bagian dari makna bahasa yang terdapat dalam sebuah tuturan atau tulisan. Ketaksaan atau ambiguitas dapat terjadi pada semua tataran bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, maupun sebuah wacana. Ketaksaan atau ambiugitas sering digunakan oleh para penutur dengan maksud-maksud tertentu, yang kadang-kadang sengaja dia buat untuk menyembunyikan maksud tuturannya yang sebenarnya, ini biasanya untuk menyindir seseorang namun dengan perkataan yang tidak dengan sesungguhnya.

          Ketaksaan atau ambiguitas adalah sebuah tataran bahasa, baik kata, frase, klausa, maupun kalimat yang mempunyai beberapa arti, atau mempunyai lebih dari satu makna. Ketaksaan berdasarkan tataran bahasa yang terjadinya dapat dibagi menjadi tiga. Yaitu, (1) ketaksaan fonetis ialah ketaksaan atau ambiguitas yang terjadi pada tataran fonetik atau fonem; (2) ketaksaan gramatikal ialah ketaksaan atau ambiguitas yang terjadi akibat perpaduan kata dengan kata, sebuah morfem dengan morfem lain atau dengan kata yang terjadi dalam suatu hubungan struktur bahasa; dan (3) ketaksaan leksikal ialah ketaksaan yang terjadi pada tataran leksem atau kata, atau dengan kata lain ketaksaan leksikal adalah sebuah kata atau leksem yang mempunyai makna lebih dari satu makna, bisa terjadi pada relasi makna berupa homonim atau polisemi.

 

B. Perubahan Makna

          Perkembangan makna bahasa mencakup segala hal tentang makna yang mengalami perkembangan. Perubahan makna bahasa merupakan gejala yang terjadi di dalam suatu bahasa akibat dari pemakaian yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor di dalam bahasa maupun di luar bahasa. Faktor-faktor itu diantaranya: faktor kebahasaan, faktor kesejarahan, faktor sosial, faktor psikologi, bahasa asing, dan faktor kebutuhan akan kata-kata baru.

          Perubahan makna dapat terjadi pada beberapa hal sebagai berikut. Pertama, perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Kedua, perubahan makna akibat lingkungan. Ketiga, perubahan makna akibat pertukaran tanggapan indera. Keempat, perubahan makna akibat gabungan kata. Kelima, perubahan makna akibat tanggapan pemakaian bahasa. Dan keenam, perubahan makna akibat asosiasi.

          Perubahan makna dapat dianggap sebagai akibat hasil proses yang dihasilkan oleh (1) hubungan sintagmatik, (2) rumpang di dalam kosakata, (3) perubahan konotasi, (4) peralihan dari acuan kongret ke acuan abstrak, (5) timbulnya gejala sinestesia, dan (6) penerjemahan harfiah.

          Perluasan makna merupakan proses perkembangan makna yang meluas, sebuah kata dengan makna yang asalnya sempit sekarang menjadi lebih luas. Misalnya, kata saudara, dahulu maksudnya hanya digunakan untuk menyebut orang seketurunan, tetapi sekarang dipakai untuk mereka yang sebaya dengan si penutur. Proses perkembangan makna selanjutnya, adalah pembatasan makna yaitu makna yang dimiliki lebih terbatas dibanding dengan makna semula. Dan pergeseran makna adalah perkembangan makna yang terjadi pada kata-kata yang eufemisme (melemahkan makna). Pergeseran makna terjadi pula pada bentuk imperatif.

          Perubahan makna menurut Firth (1969) terdiri atas (1) perubahan secara logis, (2) perubahan secara psikologis, dan (3) perubahan secara sosiologis, sedangkan hubungan makna terdiri atas empat prinsif, yaitu prinsif inklusi, prinsif tumpang-tindih, prinsif komplementr, dan prinsif persinggungan.

          Yang pertama, prinsif inklusi adalah prinsif yang terjadi sebagai akibat keinginan pemakai bahasa mengungkapkan sesuatu yang diacunya dengan cepat, atau ketidakmampuan pemakai bahasa untuk menciptakan nama benda (peristiwa). Kedua, prinsif tumpang-tindih, prinsif ini mengacu pada suatu kata yang mengandung berbagai informasi, misalnya, pada kata mempertanggungjawabkan. Ketiga, prinsif komplementer merupakan pasangan-pasangan yang saling melengkapi, baik yang berlawanan, berbalik, maupun timbal-balik. Dan keempat, prinsif persinggungan merupakan prinsif hubungan makna yang hampir sama dengan sinonim. 

            Gaya bahasa merupakan alat dalam berbahasa yang bersifat melukiskan, menggambarkan, menegaskan suatu pendapat atau ujaran. Sehubungan dengan ini Kridalaksana (1993), menegaskan arti gaya bahasa, yaitu (1) pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis, (2) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan (3) keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra.

          Gaya bahasa banyak macamnya. Di sini dapat disebutkan, (1) asosiasi, (2) metaphora, (3) personifikasi, (4) metonimia, (5) pleonasme, (6) hiperbolisme, (7) litotes, (8) euphimisme, (9) simbolik, (10) ironi, (11) cynisme, (12) sarkasme, (13) repetisi, (14) klimaks, (15) anti klimaks, (16) synecdoche, (17) paradok, (18) antithese, (19) koreksio, (20) inversi, (21) paralelisme, (22) retoris, dan (23) elipsi.

          Secara garis besar Djajasudarma (1993), membagi gaya bahasa atau majas menjadi tiga golongan, yaitu (1) majas perbandingan yang terdiri atas: perumpamaan, kiasan, dan penginsanan; (2) majas pertentangan, terdiri atas: hiperbol, litotes, dan irono; dan (3) majas pertautan, terdiri atas: metonimia, sinekdoke, kilasan, dan eufemisme.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bloch, Bernard  & George L. Trager. 1942.  Outline of Lnguistics Analysis. Baltimore, Md.: Linguistics Society of America.

Bloomfield, Leonard. 1995. Language: Bahasa. (terjemahan: I. Soetikno). Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Bronstein, Arthur J. & Beatrice F. Jacoby. 1967. Your Speech and Voice. New York: Random House.

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Comrie, Bernard. 1976. Aspect. Cambridge: Cambridge University Press.

Comrie, Bernard. 1985. Tense. Cambridge: Cambridge University Press.

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik 1. Pengantar  ke Arah Ilmu Makna. Bandung: ERESCO.

Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Semantik 2. Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: ERESCO.

Juwono, Edhi. 1982. Beberapa Gejala Perubahan Arti. Dalam Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia. Th. 3. 3: 161-188. Jakarta: Bhratara.

Kempson, Ruth M. 1977. Sematics Theory. London: Cambridge University Press.

Lyons, Jons. 1979. Sematics Vol 1. Cambridge: Cambridge University Press.

Ogden, C.K. & f.A. Richard. 1972. The Meaning of Meaning. London: Routledge dan Kegau Paul Ltd.

Pateda, Mansoer.  1994. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.

Pateda, Mansoer. 1986. Semantik Leksikal. Flores: Nusa Indah.

Purwo, Bambang Kuswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Singleton, David. 2000. Language and Lexicon. London:  Arnold.

Slametmuljana. 1969. Kaidah Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah

Soedjito. 1989. Sinonim. Bandung: Sinar Baru.

22 Mei 2009

Fonetik

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 9:38 am

OBJEK KAJIAN FONETIK

Bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipakai oleh manusia untuk tujuan komunikasi. Hal itu merupakan fenomena yang menggabungkan dua dunia, yakni dunia makna dan dunia bunyi. Bahasa mempunyai tiga subsistem yaitu subsistem fonologis, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikal.  Ketiga subsistem tersebut berhubungan dengan aspek-aspek semantis. 

 sistem fonologis yang meliputi unsur bunyi bahasa yang berhubungan dengan unsur artikulatoris, akustis, dan auditoris  dikaji  oleh fonetik; unsur bunyi bahasa yang berhubungan dengan fungsinya dalam komunikasi dikaji oleh fonemik.  Subsistem gramatikal yang meliputi kata, bagian kata (morfem), dan proses pembentukan kata dikaji  oleh morfologi; sedangkan  susunan kata yang berupa frasa, klausa, kalimat, dan wacana dikaji  oleh sintaksis.  Subsistem leksikal yang meliputi kosakata (leksikon) dikaji  oleh leksikologi.  Subsistem fonologi, gramatikal, dan leksikal berhubungan dengan aspek-aspek semantis atau makna dikaji  oleh semantik.

 Batasan dan Kajian Fonologi

Istilah fonologi berasal dari bahasa Yunani phone = ‘bunyi’, logos = ‘ilmu’.  Secara harfiah, fonologi adalah ‘ilmu bunyi’.  Fonologi merupakan bagian dari ilmu bahasa yang mengkaji bunyi, baik yang diucapkan (etik, parole), maupun yang masih dalam pikiran (emik, Langue).  Objek kajian fonologi yang pertama disebut bunyi bahasa (fon) disebut tata bunyi (fonetik). Adapun yang mengkaji fonem disebut tata fonem (fonemik).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah cabang ilmu bahasa (linguistik) yang mengkaji dan mendeskripsikan bunyi-bunyi bahasa, proses terbentuknya, dan perubahannya.  Fonologi mengkaji bunyi bahasa secara umum dan fungsional.

Batasan Fonetik

Istilah fonetik berasal dari bahasa Inggris phonetics artinya ‘ilmu yang mengkaji bunyi-bunyi tanpa memperhatikan fungsinya untuk membedakan arti (Verhaar,1982:12; Marsono, 1989:1).  Menurut Sudaryanto (1974:1), fonetik mengkaji bunyi bahasa dari sudut ucapan  (parole).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik merupakan cabang fonologi yang mengkaji dan mendeskripsikan bunyi bahasa dari sudut ucapan, bagaimana cara membentuknya sehingga menjadi  getaran udara dan dapat diterima oleh pendengaran.

 Jenis Fonetik

Berdasarkan sudut pandang bunyi bahasa, fonetik dapat dibagi menjadi tiga macam, yakni: (1) fonetik organis, (2) fonetik  akustis, dan (3) fonetik auditoris (Bloch & Trager, 1942: 11; Verhaar, 1982: 12).

 1) Fonetik Organis

Fonetik organis (artikulatoris, fisiologis) yaitu fonetik yang mengkaji dan mendeskripsikan mekanisme alat-alat ucap manusia dalam menghasikan bunyi bahasa (Gleason, 1955: 239).  Jadi, fonetik organis ini mendeskripsikan cara membentuk dan mengucapkan bunyi bahasa, serta pembagian bunyi bahasa berdasarkan artikulasinya.  Fonetik ini sebagian besar termasuk ke dalam bidang garapan linguistik.  Oleh sebab itu,  para linguis memasukkannya pada bidang linguistik teoretis.  Kajian fonetik pada BBM  ini pun mendeskripsikan fonetik organis.

2) Fonetik Akustis

Fonetik akustis yaitu fonetik yang mengkaji dan mendeskripsikan bunyi bahasa berdasar pada aspek-aspek fisiknya sebagai getaran udara (Malmberg, 1963: 5).  Bunyi bahasa dikaji frekuensi getarannya, amplitudo, intensitas, beserta timbrenya.  Fonetik akustis erat hubungannya dengan fisika, atau merupakan ilmu antardisiplin antara linguistik dan fisika.  Fonetik akustis berfungsi praktis seperti dalam pembuatan telepon, rekaman piringan hitam, cassette recorder

3) Fonetik Auditoris

Fonetik auditoris yaitu fonetik yang mengkaji dan mendeskripsikan cara mekanisme pendengaran penerimaan  bunyi-bunyi bahasa sebagai getaran udara (Bronstein & Jacoby, 1967:70-72).  Fonetik auditoris ini sebagian besar termasuk pada bidang neurologi (kedokteran), atau merupakan ilmu antardisiplin antara linguistik dan kedokteran.  

DAFTAR PUSTAKA

Aminoedin, A., dkk. 1984. Fonologi Bahasa Indonesia: Sebuah Studi Deskripstif. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Bloch, Bernard  & George L. Trager. 1942.  Outline of Lnguistics Analysis. Baltimore, Md.: Linguistics Society of America.

Bloomfield, Leonard. 1995. Language: Bahasa. (terjemahan: I. Soetikno). Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Bronstein, Arthur J. & Beatrice F. Jacoby. 1967. Your Speech and Voice. New York: Random House.

Dodd, H. Robert & Leo C. Tupan. 1961. Bunyi dan Ejaan Bahasa Inggeris (Pengantar Ilmu, Fonetik). Bandung­: Ganaco.

Fries, Charles C. 1954. English Pronunciation Exercises. in Sound Segments, Intonation, and Rhythm. English Language Institute University of Michigan.

Gleason, Jr., H.A. 1961. An Introduction to Descriptive Linguis­tics. New York‑Chicago‑San Fransisco‑Toronto‑Lon­don: Holt, Rinehart and Winston.

Halim, Amran. 1974. Intonation in Relation to Syntax in Bahasa Indonesia. Proyek Pengembahanya Bahan dan Sastra In­donesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan‑Djambatan.

Hyman, L.M. 1975. Phonology: The Theory and Analysis. New York‑Chicago‑San Fransisco‑Toronto‑Lon­don: Holt Rinehart & Winston.

International Phonetic Association. 1970. The Principles of the International Alphabeth and the Manner of using It, Illustrated by the Text in 51 Languages. London: Departement of Phonetics, University College.

Jones, Daniel. 1958. The Pronunciation of English. Fourth Edition, Cambridge, Great Britain  at the University Press.

Kridalaksana, Harimurti.  1987.  Kamus Linguistik.  Jakarta: Gramedia.

Ladefoged, Peter. 1973. Preliminaries to Linguistic Phonetics. Chicago and London: The University of Chicago Press.

Lapoliwa, Hans. 1981. Dasar‑Dasar Fonetik. Penataran Linguistik Umum Tahap 1, Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengem­bahanya Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lyons, John. 1995. Pengantar Teori Linguistik (terjemahan:I. Soetikno)Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 

Malmberg, Bertil. 1963. Phonetics. New York: Dover Publica­tions.

Marsono. 1989. Fonetik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Martinet, Andre. 1987. Ilmu Bahasa:Pengantar (terjemahan:Rahayu Hidayat). Yogyakarta: Kanisius.

Mol, H. 1970. Fundamrntals of Phonetics II. The Hague‑Paris:Mouton.

O’Connor, J.D. 1970. Better English Pronounciation. London: Cambridge University Press.

Pike, K.L. 1971. A Technique for Reducing Language to writing. Ann Arbor: Michigan Press.

Pike, Kenneth L. 1947. Phonemics A technique for Reducing Languages to Writing. Ann Arbor: University of Michigan Press.

Robins, R. H.  1989.  Linguistik Umum:Sebuah Pengantar (terjemahan:Soenarjati Djajanegara).  Yogyakarta: Kanisius. 

Samsuri.  1994. Analisis Bahasa: Memahami Bahasa secara Ilmiah.  Jakarta: Erlangga. 

Sommerstein, Alan H. 1977. Modern Phonology. University Park Press.

Sudaryanto.  1974.  Fonetik:Ilmu Bunyi yang Penyelidikannya dari sudut Parole.  Yogyakarta: Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada

Verhaar, J. M.  1982.  Pengantar Linguistik.  Yogyakarta: UGM Press.

Yusuf, Suhendra. 1998. Fonetik dan Fonologi. Jakarta: Gramedia.

20 Mei 2009

UNDAK USUK BAHASA SUNDA

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 8:32 am

Menurut Lukmana (2004:27), istilah undak usuk bahasa berpadanan dengan istilah speech levels. Undak usuk bahasa Sunda adalah suatu sistem penggunaan variasi bahasa Sunda halus, sedang, dan kasar. Berdasar pada sejarahnya, munculnya undak usuk bahasa Sunda disebabkan oleh pengaruh budaya Jawa pada kehidupan budaya Sunda. Kontak bahasa Sunda dan bahasa Jawa secara intensif terjadi ketika Sultan Agung menguasai tanah Pasundan. Salah satu unsur bahasa Jawa yang berupa unggah-ungguhing boso diadopsi ke dalam sistem bahasa Sunda. Jadi, undak usuk dalam ba-hasa Sunda muncul setelah daerah Pasundan dikuasai Mataram (Rosidi, 2004:30). Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa asalnya bahasa Sunda tidak memiliki undak usuk. Hal ini tampak pada pemakaian bahasa Sunda yang digunakan di daerah Banten Selatan (Pandeglang sampai daerah Baduy) dan Kuningan sebelah timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah (Cibingbin). Bukti lainnya bahwa bahasa Sunda asalnya tidak memiliki undak usuk terdapat dalam manuskrip (naskah) lama, seperti Carita Parahiyangan, Siksa Kanda Ng Karesian, dan Amanat Galunggung yang ditulis pada abad 16; dan prasasti-prasasti, seperti Batutulis, Kawali, dan Kabantenan. Karena undak usuk bahasa Sunda berasal dari bahasa Jawa, maka banyaklah terdapat kesamaan (MacDougall, 1994:1). Persamaannya ialah undak usuk bahasa Jawa dan bahasa Sunda terbagi menjadi tiga tingkatan. Selain itu, terdapat kosakata yang sama dalam penggunaan undak usuk baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Sunda. Untuk membuktikan hal tersebut di atas Coolsma (1985:15) pernah mengadakan penelitian kontrastif mengenai undak usuk bahasa Jawa dan undak usuk bahasa Sunda. Dia membandingkan 400 kata halus dan 400 kata kasar. Hasilnya ditemukan 300 kata halus dan 275 kata kasar bahasa Sunda yang berasal dari bahasa Jawa. Akan tetapi dalam pemakaiannya bercampur aduk. Menurut Prawirasumantri (2000:5) pembagian pengguna undak usuk bahasa Sunda berdasar kepada hal-hal berikut: (1) Ragam hormat dipergunakan untuk berbicara kepada (a) orang yang lebih tua usianya dan lebih tinggi status sosialnya, (b) orang yang baru dikenal atau belum akrab, (c) membicarakan orang yang lebih tua usianya dan lebih tinggi status sosialnya, (d) membicarakan diri sendiri atau sesama dengan menggunakan ragam hormat; (2) Ragam akrab dipergunakan untuk berbicara kepada (a) orang yang lebih muda atau lebih rendah status sosialnya, (b) orang yang sudah sangat akrab, (c) membicarakan orang yang lebih muda atau lebih rendah status sosialnya, (d) pada situasi wajar, dan (e) suasana formal akademis atau tulisan ilmiah. Bila dilihat dari konsepnya, pembagian penggunaan undak usuk bahasa Sunda seperti di atas, akan tampak bahwa penggunaan undak usuk bahasa Sunda bersifat heterogen. Konsep penggunaan bahasa didasari oleh teori dari de Saussure (1988:88). Menurut teori ini konsep penggunaan disebut dengan istilah parole. Parole adalah bahasa sebagaimana pemakaiannya, karena itu sangat tergantung pada faktor-faktor linguistik ekstern. Fishman (1972:149) membedakan varia-si bahasa menurut para pemakai (users) dan pemakaiannya (uses). Variasi bahasa menu-rut para pemakai disebut dialek, sedangkan variasi bahasa menurut pemakaiannya disebut register. Dalam kaitannya dengan kajian ini, Halliday dalam Fishman menyatakan variasi bahasa yang dimaksud adalah register. Variasi tersebut dipengaruhi oleh siapa yang berbicara, lawan berbicara, situasi, topik pembicaraan, dan sebagainya. Hymes dalam Bell (1976:80) merinci faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa dengan delapan faktor, yakni: (1) setting and scene (latar), yang mengacu kepada tempat dan waktu terjadinya komunikasi, (2) participant, yang mengacu pada peserta komunikasi yang terdiri atas pembicara, pengirim, pendengar, penerima, (3) ends (purpose and goals), yang mengacu pada tujuan dan hasil atau harapan mengadakan komunikasi, (4) act sequence, yang mengacu kepada bentuk dan isi pesan komunikasi, (5) key, yang mengacu pada gaya, ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi, (6) instrumentalities, yang mengacu kepada sarana perantara yang digunakan dalam komunikasi dan bentuk tuturan, bahasa, dan dialek, (7) norms, yang mengacu pada norma perilaku dalam interaksi, interpretasi komunikasi, dan (8) genres, yang mengacu pada bentuk dan jenis bahasa yang digunakan dalam komunikasi, misalnya: ceritera, puisi, dan prosa. Mengenai hal ini, Adiwidjaya (1951:53), salah seorang linguis Sunda, menyebutkan bahwa ekspresi ragam hormat dapat dilihat dari bentuknya yang berupa: (1) lisan (kosakata), (2) roman muka, (3) gerak, dan (4) intonasi. Selain itu, bahasa Sunda yang digunakan selalu bertalian dengan hal-hal sebagai berikut: (1) siapa yang berbicara, (2) struktur bahasa yang digunakan, (3) isi pokok atau makna yang akan diungkapkan, dan (4) suasana dan situasi pemakaian. Dengan demikian, dalam bahasa Sunda penggunaan ragam bahasa tersebut bertalian dengan (1) siapa yang berbicara, (2) struktur bahasa yang digunakan, (3) isi pokok atau makna yang akan disampaikan, dan (4) suasana dan situasi penggunaan (1989:45). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendapat para ahli bahasa Sunda sebagaimana telah dikemukakan di atas semuanya merujuk pada tiga tingkatan, yakni lemes ‘hormat’, sedeng ‘sedang’, dan kasar ‘akrab’. Dalam Kongres Basa Sunda 1988 di Cipayung, Bogor, diputuskan bahwa tingkatan dalam undak usuk bahasa Sunda disederhanakan lagi menjadi dua macam, yakni (1) basa hormat (bahasa halus) dan (2) basa loma (bahasa kasar). Begitu pula dalam Konferensi Internasional Budaya Sunda I tahun 2001 di Bandung disarankan bahwa penggunaan undak usuk bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari perlu disederhanakan sehingga pemakaian undak usuk tidak menjadi penghambat komunikasi. Undak usuk bahasa Sunda dalam buku-buku pelajaran seyogyanya disederhanakan menjadi dua ragam, yaitu ragam hormat dan ragam loma (Kalawarta KIBS, Nomor 6, September 2001:11) Pertimbangan pembagian tingkatan undak usuk bahasa Sunda menjadi dua macam karena ragam hormat untuk orang lain dan diri sendiri dijadikan satu kelas, sedangkan ragam loma ‘akrab’ tetap berdiri sendiri. Namun, sampai Kongres Basa Sunda VII tahun 2001 yang dilaksanakan di Garut belum terdapat kesepahaman di antara para pakar bahasa Sunda mengenai bentuk ragam dan kosakatanya. Yang baru disepakati ialah bahwa undak usuk bahasa Sunda terdiri atas dua ragam, yakni ragam hormat dan ragam loma. Perubahan tingkatan dan jumlah kosakata undak usuk bahasa Sunda meru-pakan suatu hal yang alami. Hal ini sesuai dengan pendapat Pateda (1987:77) yang menyatakan bahwa bahasa tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Kedinamisan bahasa disebabkan oleh kedinamisan masyarakat pemakai bahasa. Oleh karena bahasa bersifat dinamis, terjadilah perubahan-perubahan terutama dalam hal penambahan kosakata dan juga aspek-aspek lain dari bahasa. Dalam penelitian ini, tingkatan undak usuk bahasa Sunda mengacu pada hasil Kongres Basa Sunda VII tahun 2001. Pembagiannya dirinci menjadi tiga bagian, yakni ragam hormat keur ka batur (ragam hormat untuk orang lain), ragam hormat keur ka diri sorangan (ragam hormat untuk diri sendiri), dan ragam loma (ragam akrab). Adapun untuk pembendaharaan kosakatanya mengacu pada pendapat Karna Yudibrata, Agus Suriamihardja, dan Iskandarwassid (1989: 52-68) yang mencantumkan bahwa jumlah kosakata undak usuk bahasa Sunda sebanyak 586 buah kata. Dari paparan yang telah disebutkan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan undak usuk bahasa Sunda adalah sistem penggunaan variasi bahasa Sunda berdasarkan tingkat tutur, yakni ragam hormat untuk orang lain (ragam hormat keur ka batur), ragam hormat untuk diri sendiri (ragam hormat keur ka sorangan), dan ragam akrab (ragam loma). Pemakain undak usuk bahasa Sunda ditentukan oleh kekuasaan, kedudukan (status relatif), dan keakraban; serta berhubungan dengan peran pembicara dan yang diajak bicara.

DAFTAR RUJUKAN

Alwi, Hasan, “Kebijakan Bahasa Daerah,” ed. Dendy Sugono dan Abdul Rozak Zaidan. Bahasa Daerah dan Otonomi Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2001.

Langauge Contact and Bilingualism. London: Edward Arnold,  1988.

Ardiwinata,  D. K.  Tata Bahasa Sunda. Jakarta: Balai Pustaka,  1984.

Bell, R. Sociolinguistics: Goal, Approaches and Problems.  London: Bastford,  1976.  

Coolsma,  S. Tata Bahasa Sunda (terjemahan Husein Widjajakusumah dan Yus Rusyana). Jakarta: Djambatan,  1985.

Crystal, David. The Cambridge Encyclopedia of Language. New York: Cambridge University Press,  1998.

Djajasudarma, F. dan Idat A. “Studi Kasus Undak Usuk Basa Sunda: Pangrewong kana Sabagian Makalah Ajip Rosidi” ed. Ajip Rosidi. Polemik Undak usuk Basa Sunda. Bandung: PT Mangle Panglipur, 1987.

Djajawiguna, I.  Buldan. Kandaga Tata Basa Sunda. Bandung: Tarate,  1978.

Fishman,  Joshua.  Readings in the Sociology of  Language. The Hague: Mouton,  1972.

Fishman, Joshua. Bilingual Education: An International Sociological Perspective. Rowley,  MA: Newbury House,  1976.

Grosjean, Francois. Life with Two Languages. Cambridge: Harvard University Press, 1982.

Gumperz,  J. J. and D. Hymes. Direction in Sociolinguistics. New York:,  1986.

Holmes,  Janet. An Introduction to Sociolinguistics. London: Longman,  1994.

Holmes, Janet, et. al.  “Language Maintenance and Shift in Three New Zealand Speech Community” dalam Applied Linguistics,  Vol.  14 No.  1,  1993,  p. 14.

Holmes, Janet.  An Introduction to Sociolinguistics. London: Longman.

Kalawarta KIBS,  Nomor 6,  September 2001.

Kats,  J.  dan M. Soeriadiradja. Tata bahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda. Jakarta: Djambatan,  1984.

Panitia Parumus Kongres. Hasil Kongres Basa Sunda di Cipayung Bogor. Bandung: Karya Kita,  1988.

Pateda, Mansoer. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa, 1987.

Prawirasumantri, Abud. “Ngarekayasa Undak Usuk Basa Sunda,” makalah disampaikan dalam Kongres Basa Sunda VII, Garut, 10-12 November 2001.

Richards, Jack,  John Platt,  and Heidi Weber.  Longman Dictionary of Applied Linguistics.   Longman House,  Burnt Mill,  Harlow: Longman Group UK Limited,  1987. 

“Rumusan Seminar Politik Bahasa” ed. Hasan Alwi dan Dendy Sugono. Politik Bahasa: Risalah Seminar Politik Bahasa. Jakarta: Pusat Bahasa, 2000. 

Rusyana, Yus.  Perihal Kedwibahasaan. Bilingualisme. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenega kependidikan,  1989.

Suwito.  Pengantar Awal Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Offset,  1985.  

Syafi’ie, Imam. Terampil Berbahasa Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka,  1996.

Wardhaugh, R. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell,  1976.

Yudbirata, Karna,  Agus Suriamihardja, dan Iskandarwassid.  Bagbagan Makéna Basa Sunda. Bandung: Rahmat Cijulang,  1989.

16 Mei 2009

Pengukuran Kecerdasan

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 11:52 am

Pengukuran kecerdasan telah dilakukan sejak 1905, Alfred Binet dan asistennya, Theodore Simon, mempublikasikan Binet-Simon Scale, suatu tes kecerdasan yang kemudian mengalami beberapa kali revisi. Terakhir dikenal sebagai Stanford-Binet Intelligence Scale

Pada tahun 1939, Wechsler meluncurkan Wechsler-Belleveu Intelligence Scale, setelah beberapa kali revisi menghasilkan sedikitnya tiga jenis alat ukur untuk kelompok usia yang berbeda, yakni WPPSI, WISC-R, dan WAIS-R. Yang berfungsi secara etik di kalangan penggunanya, yakni psikolog.

Baik tes Binet maupun Wechsler, merupakan tes kecerdasan individual yang pelaksanaannya dilakukan secara one-on-one relationship, satu ahli (expertise tester) melakukan pengukuran terhadap satu subjek/seseorang yang dites. Dengan demikian proses administrasi berlangsung secara pribadi, hingga motivasi, kecemasan, ataupun reaksi dari orang yang dites langsung teramati. Keduanya mengembangkan faktor G secara sistematis dalam subtes peranti mereka. Tes-tes ini masing-masing menghasilkan nilai kecerdasan atau IQ. Satuan yang dipergunakan untuk hasil tersebut adalah quotient, maka itu dinamakan IQ (Intelligence Quotient).

IQ merupakan hasil bagi dari MA (mental age/usia mental) dan CA (chronological age/usia sesungguhnya) dikalikan 100, maka sesuatu dapat disebut sebagai kecerdasan dengan satuan quotient apabila hal itu dapat diukur, dihitung, dan merupakan hasil bagi.

Seluruh tahap adalah penting dalam tes inteligensi, yakni proses tes, penyekoran, pengamatan, interpretasi, analisis, penghitungan, dan penyampaian hasil. Oleh sebab itu disarankan apabila hendak memanfaatkan jasa ini, pilihlah seseorang yang memang ahli dan berlisensi (sebagai tanda diakui kompetensi dan kewenangannya), sehingga masyarakat pemanfaat jasa pemeriksaan psikologis dengan tes inteligensi memperoleh hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain individual, ada pula tes kecerdasan yang bersifat massal. Pada umumnya dipergunakan dalam proses seleksi yang menggunakan norma kelompok (bukan skala universal seperti Binet dan Wechsler) sebagai rujukan. Hal itu dilakukan untuk melihat posisi nilai kecerdasan seseorang di dalam sebuah kelompok dengan kriteria tertentu, misalnya kelompok pencari kerja lulusan perguruan tinggi, dan lain-lain.

Goleman mengatakan IQ menyumbang 20 persen bagi kesuksesan hidup seseorang, selebihnya merupakan kontribusi dari kecerdasan emosi. Goleman memperkenalkan EQ (Emotional Quotient), dengan lima pilar andalan, yakni mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain (meliputi empati), dan membina hubungan interpersonal. Barangkali ia dan para pengikutnya telah mengembangkan skala pengukuran yang jelas untuk dapat disebut sebagai kecerdasan dalam satuan quotient.

Dengan demikian, tingkat kecerdasan ditentukan berdasarkan hasil tes kemampuan IQ. Berdasarkan hasil tes tersebut dapat diketahui apakah seseorang termasuk kategori: a) Tinggi sekali (140-169), b) Tinggi (120-139), c) Cukup Tinggi (110-119), d) Sedang (90-109), e) Agak Rendah (80-89), f) Rendah (10-79), dan g) Rendah Sekali (30-69).

Dari WWW:   Wikipedia, the free encyclopedia, htm.

Pengukuran Pemahaman Membaca

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 11:46 am

             Mengukur pemahaman bacaan siswa tidak terlepas dari kecepatan atau waktu membacanya. Setiap pengukuran yang berkaitan dengan kemampuan membaca ini tentu mencakup kecepatan dan pemahaman isi bacaan. Tampubolon (1987:7) mengemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan kemampuan membaca adalah kecepatan membaca dan pemahaman isi secara keseluruhan. Jadi, antara kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan keduanya seiring. Ditambahkan oleh Tampubolon, cara mengukur kemampuan membaca adalah jumlah kata yang dapat dibaca per menit dikalikan dengan persentase pemahaman is bacaan. Pemahaman bacaan dapat diukur melalui pertanyaan yang menanyakan tentang apa yang dimaksud pengarang, apa yang akan dikatakan pengarang, dan hal-hal apa saja yang tersurat dalam bacaan tersebut.

Anderson (1981:106-107) mengemukakan bahwa kemampuan pemahaman bacaan dapat diukur melalui pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1)   Tingkat pemahaman literal

       a) perbuatan apa pada cerita tersebut ?

       b) siapa yang menjadi karakter-karakter utama ?

       c) di mana hal itu berlangsung ?

2)   Tingkat interpretasi

       a) apa yang pengarang coba katakan ?

       b) apa tema pokoknya?

       c) Bagaimana fakta ini cocok dengan apa yang telah diketahui?

3)   Tingkat ketiga

        a) simbol-simbol apa yang disampaikan?

        b) Apakah saya dapat menyimpulkan dari apa yang dikatakan?

        c) Evidensi-evidensi apa untuk generalisasi-generalisasi berikut?

            Jadi, Anderson mengungkapkan bahwa pemahaman bacaan dapat diukur dalam tiga tingkatan, yaitu (1) tingkat pemahaman literal, (2) tingkat interpretasi, dan (3) tingkat pemahaman di luar wacana. Tingkat literal menanyakan hal-hal yang tersurat dalam bacaan, tingkat interpretasi menanyakan tentang apa yang dimaksud mengarang, dan tingkat pemahaman ketiga menanyakan hal-hal yang ada di luar wacana.

Menurut Harris (1977:59)  tes kemampuan pemahaman bacaan mencakup:

1)   Bahasa dan lambang tulisannya

a)  Kemampuan memahami kata-kata yang terpakai dalam tulisan- tulisan   biasa dan kemampuan memahami istilah-istilah tertulis yang jarang terpakai dalam tulisan biasa atau kata-kata biasa yang terpakai dalam arti khusus sebagaimana terdapat dalam bahan bacaan.

b) Kemampuan memahami pola-pola kalimat dan bentuk-bentuk kata sebagaimana terpakai dalam, bahasa tulisan, dan kemampuan mengikuti bagian-bagian yang kian lama kian panjang dan sulit yang dijumpai dalam tulisan-tulisan resmi.

c)  Kemampuan menafsirkan dengan lambang-lambang atau tanda-tanda yang terpakai dalam tulisan yaitu tanda-tanda baca, pemakaian huruf besar, penulisan paragraf, pemakaian cetak miring, cetak tebal, dan sebagainya yang digunakan untuk memperkuat dan memperjelas pengertian yang terpakai dalam bacaan.

2)   Gagasan

a)     Kemampuan mengenal maksud yang ingin disampaikan pengarang dan gagasan pokok yang dikemukakan dalam karangan itu.

b)    Kemampuan memahami gagasan-gagasan yang mendukung pokok yang dikemukakan pengarang.

c)     Kemampuan menarik kesimpulan yang betul dan kecerdasan yang tepat tentang apa yang dikemukakan pengarang dalam bacaan itu.

3)   Nada dan Gaya

a)     Kemampuan mengenal sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakannya dan sikap pengarang terhadap pembaca. Kemampuan memahami nada tulisan yang dikemukakan pengarang.

b)  Kemampuan mengenal teknik dan gaya penulisan yang digunakan pengarang untuk menyampaikan gagasannya dalam bacaan itu.

             Secara garis besar, sebenarnya aspek yang dinilai dalam pemahaman bacaan terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) pemahaman bahasa dan lambang tulisannya, (2) gaya yang terdapat dalam bacaan, dan (3) nada dan teknik yang digunakan pengarang. Dengan memahami ketiga aspek itu, berarti pembaca memahami keseluruhan isi bacaan.

              Farr (1969:53) mengemukakan bahwa untuk mengukur pemahaman bacaan di antaranya haruslah berisi pertanyaan tentang pandangan atau maksud pengarang dan pertanyaan tentang kesimpulan bacaan. Secara terinci Farr membagi pertanyaan itu menjadi sembilan, yaitu :

a)        Pengetahuan tentang makna kata;

b)       Kemampuan memilih makna yang dimiliki kata atau frasa dalam latar kontekstual khusus;

c)        Kemampuan untuk memilih atau memahami susunan dari bacaan dan identitas sebelumnya dan kesimpulan-kesimpulan di dalamnya.

d)       Kemampuan menyeleksi gagasan pokok melalui bacaan;

e)        Kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dijawab khusus dalam suatu bacaan;

f)         Kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dalam bacaan, tetapi tidak pada setiap kata-kata yang mana pertanyaan dijawab;

g)        Kemampuan menyimpulkan dari bacaan tentang isinya;

h)        Kemampuan mengingat apa yang ditulis dalam bacaan dan maksud dan suara hati pengarang, dan

i)          Kemampuan menentukan tujuan-tujuan pengarang, maksud pengarang, dan pandangan pengarang, yaitu membuat kesimpulan-kesimpulan tentang suatu tulisan.

             Jadi, secara garis besar pertanyaan-pertanyaan tes pemahaman bacaan menurut Farr dibagi menjadi tiga, yaitu (1) kemampuan memahami makna kata dalam bacaan (2) kemampuan memahami  organisasi karangan dalam bacaan dan ide-ide pokok serta isi bacaan, dan (3) kemampuan menetukan tujuan-tujuan pengarang, maksud, pandangan, dan kesimpulan tentang bacaan itu.

Menurut Smith (1978:231-234), kegiatan pemahaman bacaan dapat diukur dari kemampuan siswa memarafrase arti yang diberikan secara jelas dalam wacana, kemampuan mencari jenis organisasi dari bacaan dan ide-ide informasi yang ada dalam bacaan, dan kemampuan siswa memahami proses berpikir tentang bacaan tersebut. Secara terinci pertanyaan-pertanyaan yang ingin mengungkap kemampuan pemahaman bacaan siswa menurut Smith menyangkut hal-hal sebagai berikut:

1)    Pemahaman Literal

        a. mengerti kata

        b. mengerti kalimat

        c. mengerti organisasi rangkaian kata dalam bacaan

        d. mengetahui tanda-tanda

        e. mengerti informasi dalam bacaan

         f.  mengikuti aturan-aturan dalam bacaan

         g. dapat mendeskripsikan prosedur dan proses kata-kata dalam bacaan.

         h. dapat mengingat isi khusus untuk mengungkapkan kembali apa yang telah dibacanya.

2)    Pemahaman Inferensial

         a. mengidentifikasikan gagasan-gagasan pokok

         b. mengidentifikasikan organisasi paragraf

         c. membuat bandingan atau perbedaan

         d. mengingat secara nyata hubungan sebab akibat

         e. memahami hubungan hirarkhi

         f.  penyeleksian kesimpulan

         g. penyimpulan konsep-konsep

         h. menanggapi pertanyaan dalam teks

          i.  membedakan kerelevanan dan ketidakrelevanan informasi

          j.  menilai pertanyaan-pertanyaan pendukung

          k. membedakan informasi objektif dan subjektif

           l.  menilai keotentikan, kelengkapan, dan kelogisan informasi

          m. mengingat elemen-elemen pada gaya dan nada

          n. mencari asal bahasa figuratif dan simbolik

          o.  mengingat pandangan pengarang dan tujuannya, dan mendeteksi kebiasaan pengarang

          p. memprediksi hasil dan pemecahan

           q. membandingkan bahan dari teks lain.

              Berdasarkan kajian-kajian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman bacaan adalah kesanggupan seseorang untuk menangkap informasi atau ide-ide yang disampaikan oleh penulis melalui bacaan sehingga ia dapat menginterpretasikan ide-ide yang ditemukan, baik makna yang  tersurat maupun yang tersirat dari teks tersebut. Pemahaman bacaan meliputi pemahaman literal, pemahaman inferensial, dan pemahaman evaluasi.

DAFTAR RUJUKAN

DAFTAR PUSTAKA

                                        

Anderson. Efficient Reading: A Practical Guide. Sidney: McGraw-Hill Book    Company. 1981.

Farr, B. Reading: What Can be Meassured? Deleware: International Reading Association. 1969.

Goodman,  Yetta M., dkk. Reading Strategies Focus on Comprehension. Singapore: B & Jo Enterprise PTE Ltd. 1980.

Harris, D. Testing as a Second Language. Hongkong: Tata McGraw-Hill Publishing. 1977.

Smith, C. Teaching in Secondary School Content Subjects: A Book Thingking Process. New York: Holt, Rinehart, and Winston. 1978.

Tampubolon, D.P. Kemampuan Membaca: Teknik Membaca Efektif dan Efisien. Bandung: Angkasa. 1987.

Pengertian Kemampuan Membaca

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 11:30 am

Pemahaman bacaan menurut Harjasujana dan Damaianti (2003:134-136) meliputi pemahaman kalimat-kalimat. Pemahaman tentang kalimat-kalimat itu meliputi pula kemampuan menggunakan teori tentang hubungan-hubungan struktural antarkalimat. Pengetahuan tentang hubungan struktural itu berguna bagi proses pemahaman kalimat, sebab kalimat bukanlah untaian kata-kata saja melainkan untaian kata yang saling berkaitan mengikuti cara-cara yang spesifik.

          Hubungan-hubungan struktural yang penting untuk memahami makna kalimat itu tidak hanya diberikan dalam struktur luar, tetapi juga diberikan dalam struktur isi kalimat. Pemahaman kalimat tidak akan dapat dilakukan dengan baik tanpa dukungan pemahaman atas hubungan isi antarkalimat tersebut. Untuk itu, agar memiliki keterbacaan yang tinggi, kalimat yang disusun dalam suatu wacana harus selalu memperhatikan unsur struktur luar, struktur isi, dan hubungan antarkeduanya.

          Masalah yang berhubungan dengan pengaruh struktur kalimat terhadap proses membaca ada dalam bidang yang sangat khusus, yakni keterbacaan (Harjasujana dan Damaianti (2003:4). Berbicara tentang keterbacaan, setiap penyusun wacana atau buku bacaan, baik fiksi maupun nonfiksi, harus mendasarkan diri pada orientasi teoretis, yakni masalah struktur kalimat dan kosakata. Seperti dikemukakan oleh Sakri (1993:135), keterbacaan (readability) bergantung pada kosakata dan bangun kalimat yang dipilih oleh pengarang untuk tulisannya. Tulisan yang banyak mengandung kata yang tidak umum lebih sulit dipahami daripada yang menggunakan kosakata sehari-hari. Tentang hal ini telah dijelaskan pada penjelasan tentang kosakata baca. Demikian pula, bangun kalimat yang panjang dan kompleks akan menyulitkan pembaca yang tingkat perkembangan usianya berbeda.

Uraian-uraian di atas mengimplikasikan bahwa penyusunan bacaan yang menurut pengarang sudah sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak, namun tanpa mengindahkan penguasaan kosakata dan kalimat yang digunakan dalam suatu wacana yang mereka kenal, maka bacaan tersebut akan gagal dalam hal keterbacaannya.

          Pengukuran terhadap penguasaan kosakata dan kalimat dalam bacaan oleh anak amat penting dilakukan sebagai dasar penyusunan bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh bahwa membaca berarti memahami isi (deep structure) bacaan. Sarana pemahaman tersebut adalah struktur luar (surface structure).

          Ada yang berpendapat bahwa panjang kalimat sebagai unsur utama yang menyebabkan timbulnya kesulitan dalam kegiatan membaca. Oleh karena itu, panjang kalimat dijadikan alat ukur tingkat keterbacaan sebuah wacana, dan biasanya dijadikan unsur utama dalam formula-formula keterbacaan. Kalimat-kalimat yang kompleks pada umumnya panjang-panjang.

          Menurut susunan kalimatnya, kalimat tunggal lebih mudah dipahami maknanya atau maksudnya daripada kalimat majemuk. Hal ini disebabkan kalimat majemuk lebih rumit daripada kalimat tunggal.

Dari pendapat para ahli di atas tentang pengertian, tujuan, proses, dan pembelajaran membaca, serta pemahaman  dapat disimpulkan pemahaman bacaan adalah pengertian yang diperoleh dari aktivitas membaca. Aktivitas ini melibatkan pembaca, teks, dan isi pesan yang disampaikan penulis. Seseorang dapat dikatakan memahami bacaan apabila ia telah mendapatkan informasi atau pesan yang disampaikan oleh penulis, baik tersurat maupun tersirat.

 

DAFTAR RUJUKAN

Harjasujana, Ahmad Slamet dan Vismaian Damaianti. Membaca dalam Terori dan Praktik. Bandung: Mutiara, 2003.

Sakri, A. Bangun Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung: ITB Bandung.1993.

Hello world!

Filed under: Uncategorized — iyosrosmana @ 3:03 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.